Biasanya orang yang bekerja di desa secara full time terdiri dari orang desa sendiri, kecuali ada beberapa diantaranya, seperti guru, bidan, tenaga kerja sukarela yang dikirim oleh BUTSI. Kepala desa dan pamong desa hanya merupakan pekerja part timer. Sebagai Kepala Desa dan Pamong Desa mereka harus pula bekerja di sawah, ladang atau kebun, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Sedangkan petugas-petugas di kecamatan yang sangat terbatas jumlah dan fasilitasnya, sangat jarang dapat mengunjungi desa. Untuk mengunjungi desa-desa sekali dalam satu bulan saja, mungkin akan menyita kira-kira sebulan dari waktunya.
Struktur administrasi pemerintahan dalam pembangunan pedesaan mendorong BUTSI untuk menerjunkan Tenaga Kerja Sukarela, pelopor pembaharuan dan pembangunan di daerah pedesaan. Presiden, sebagai pimpinan eksekutif, melaksanakan berbagai kebijaksanaan, dengan dibantu oleh para menteri, sedang para Direktur Jenderal dan Departemen sebagai pelaksana kebijaksanaan, mendelegasikannya kepada para pejabat tingkat propinsi. Demikian seterusnya sampailah kebijaksanaan dan pelaksanaannya itu pada para kepala desa. Sehingga pola administratif merupakan bentuk belah ketupat, dimana titik pada ujung yang satu terletak kepala negara dan ujung yang lainnya adalah kepala desa, sedang ditengah-tengahnya para Menteri, Direktur Jenderal, pejabat tingkat Propinsi, Kabupaten dan Kecamatan. Jelaslah kiranya bahwa Kepala desa sebagai “presiden kecil”, mempunyai tugas yang sangat berat, baik di bidang administratif, pelaksanaan suatu program maupun pertanggung jawab kebijaksanaannya kepada Dewan Musyawarah Desa. Dari Kepala Desa yang dipilih secara demokratis diperlukan persyaratan sebagai administrative makers dan “solidarity makers”, seperti halnya Kepala Negara.
*.Karangan ini merupakan pengalaman penulis sewaktu menjadi anggota Tenaga Kerja Sukarela (TKS) yang dikirim oleh Badan Urusan Tenaga Kerja Sukarela Indonesia (BUTSI). BUTSI adalah suatu badan antar departemen, yang diketuai oleh Menteri Tenaga Kerja. Penulis ditugaskan oleh BUTSI sebagai pelopor pembaharuan dan pembangunan dan selama dua tahun bertugas di Kecamatan Bayah, daerah pedesaan Banten Selatan, bersama lima orang rekan lainnya. Karena itu pengalaman ini lebih merupakan pengalaman kelompok daripada pengalaman pribadi.