Prisma

Pengantar Redaksi

Suku bangsa Huhn menyerbu Dunia Barat secara massal dan bertempat tinggal di sana. Orang-orang Anglo Saxon berpindah dan menaklukkan dunia baru (Amerika). Lantas dijadikan pemukimannya dan kemudian negaranya. Orang-orang Cina menerobos ke Selatan dan beranak-pinak di kawasan Asia Selatan dan Tenggara.

Dinjau dari segi tingkah laku perpindahan penduduk (migration behaviour) maka orang Indonesia termasuk salah satu bangsa yang tidak terlalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sejarah memang cukup membuktikan betapa pelaut-laut Bugis dan Makassar melanglang buana, dan memenuhi pelabuhan-pelabuhan di Indonesia dan negara-negara tetangga dengan perahu-perahunya dan menempati kawasan-kawasan pesisir. Tetapi sejarah Indonesia juga tidak mengenal perpindahan habis-habisan suatu suku bangsa menuju suatu daerah tertentu.

Perpindahan masuk ke kota-kotapun sebenarnya tidak terlalu fantastis. Malah beberapa ahli menganggap perpindahan masuk kota bila diperbandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia termasuk yang paling lambat dan paling minim (Prisma, April 1974). Malah pergeseran penduduk dari desa menuju kota tidaklah sebesar yang sering diduga.

Akan tetapi Jakarta berbeda dengan kota-kota besar Indonesia lainnya justru dalam hal ini. Jumlah penduduknya pada tahun 1961 adalah 558% karena perpindahan, bilamana diperbandingkan dengan tahun 1931. Jumlah penduduknya di tahun 1971 adalah 154% karena perpindahan bilamana diperbandingkan dengan tahun 1961. Dengan demikian sudah sangat bisa dipastikan bahwa penduduk Jakarta sebagian terbesar terdiri dari mereka yang berasal dari luar Jakarta. Dan yang disebut penduduk asli Jakarta makin hari makin terdesak ke pinggir atau ke luar kota. Lama kelamaan mereka akan merasa asing justru di kota kelahirannya sendiri. Atau akan datang saatnya di mana akan dibangun cagar buat alam dan kebudayaan Jakarta asli di jantung kota Jakarta sendiri.

Dan Jakarta akhirnya menanggung konsekwensi kehidupan perkotaan yang tidak jauh bedanya dengan kota-kota metropolitan lainnya di dunia. Sebagai kota yang akan beranjak menjadi kota industri ia mengulangi nasib Liverpool di Inggis abad ke-19. Perbedaan tingkat penghidupannya terjal, securam tebing. Yang hidup dalam buaian suasana dongeng seribu satu malam di tengah kemewahan yang mencengangkan berdampingan dengan yang hanya memiliki sehelai karung atau plastik buat berbaring. Pencakar langit bertetangga dengan gubug-gubug reot. Tetapi ini terjadi juga hanya di Jakarta: para pemungut puntung dan gelandangan merasa bahwa hidupnya lebih terjamin dan pendapatannya lebih tinggi daripada menjadi penggarap tanah pertanian di kampungnya.

Namun apakah urbanisasi pangkal dari segala kebobrokan? Apakah secara makro urbanisasi begitu perlu dikhawatirkan? Suatu gejala lain mungkin tidak terlalu melimpahkan kesalahan kepada urbanisasi. Ternyata sebagian terbesar pejabat Jakarta adalah mereka yang berasal dari luar Jakarta. Dan kemegahan Jakartapun dibangun oleh para pendatang ini. Masri Singarimbun dan Mayling Oey masing-masing membahas masalah tersebut. Soetjipto Wirosardjono membahas bagaimana tata pemerintahan kota untuk mengatur dan mengelola lola penduduk Jakarta. Menampung penduduk Jakarta yang setiap tahun terus meningkat dibutuhkan suatu sistem perluasan wilayah. Apakah rencana Jabotabek memungkinkannya? Ir. Hendro Pranoto Suselo membahas masalah Jabotabek. Mochtar Lubis meninjau kontras-kontras gaya kehidupan Jakarta dan latar belakang sejarah yang mendasarinya. Sebuah artikel yang unik ditulis Patrick Guinness tentang keluarga miskin, yang berpindah ke Yogyakarta. Dengan segala susah payah mereka berusaha menyambung hidupnya sebagai penggali pasir. Tetapi dalam bidang usahanya mereka tidaklah terhindar dari peraturan kota yang kadang-kadang memaksanya untuk bertekuk lutut di depan keputusan birokrasi. Tema-tema pembahasan Jakarta di Hari Ulang Tahunnya yang ke-450 terkuras habis oleh berbagai jenis media massa. Akan tetapi pembahasan Jakarta dari segi manapun tanpa melihat faktor migrasi c.q. urbanisasi akan menampilkan wajah Jakarta yang tidak lengkap. Dan Prisma mencoba melihatnya dari segi ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan