Prisma

Pengantar Redaksi

KOTA di berbagai belahan Dunia Ketiga adalah modernisasi kota dari masa kolonial, bagian penting dalam akumulasi modal di semua tingkat: regional, nasional dan internasional. Tepatnya, arena akumulasi modal yang menyediakan kerangka dan ruang operasi kelembagaan: perusahaan transnasional, oligopoli setempat dan negara-bangsa moderen.

Dalam menyajikan kondisi sosial yang diperlukan, agar lebih unggul, maju, dan berguna di tengah persaingan industri dan pertumbuhan ekonomi, kota — terutama dalam wilayah metropolitan raksasa — selalu berstruktur ganda, sebagai ruang produksi dan reproduksi yang diperantarai melalui perbankan, pasar modal, perdagangan, dan transportasi.

Di satu sisi kota bertindak sebagai pusat konsentrasi dunia usaha, kawasan industri serta administrasi pengambilan keputusan; di sisi lain, kota harus menciptakan kembali prakondisi yang diperlukan bagi produksi kapitalis supaya terus berkelanjutan tak jatuh dalam krisis ekonomi. Produksi berarti pemutusan ekonomi dan konvergensi demografis dari berbagai wilayah pinggiran, misalnya “pedesaan” atau kawasan pedalaman ke perkotaan. Reproduksi berarti ekspansi pasar dan penyebaran budaya: menyebarkan gaya hidup baru, adat istiadat, penciptaan real estate, kebiasaan berbusana dan pembentukan pola konsumsi.

Tapi di Dunia Ketiga, pemusatan dan penyebaran harus dipahami dalam sejarah kolonialnya dan lingkup globalnya. Watak dan fungsi kota berkait erat dengan hubungan-hubungan sosial khusus yang mulai terbentuk sejak tahap ekspansi kapitalisme dagang Eropa di abad XVI. Kota-kota di wilayah jajahan menjadi sub-pusat administrasi guna memperantarai pusat imperium dan wilayah jajahannya: pangkalan dagang produk ekspor pertambangan, mineral ataupun tanaman keras.

Selain pembedaan geografis antara kawasan penjajah dan daerah jajahannya, apa yang membuat kota-kota Dunia Ketiga menjadi unik terbentuk di masa pasca kolonial, dibanding bekas pusat imperiumnya, bahkan dibanding kota-kota di kawasan Asia, Afrika ataupun Amerika Latin itu sendiri?

Para penganut teori dualisme klasik secara sangat sederhana mengemukakan pembentukan dikotomi sektoral di negeri-negeri pasca kolonial: sektor moderen yang kapitalistis, maju; dan sektor tradisional yang non atau pra-kapitalistis, terbelakang; atau sektor formal-informal di perkotaan.

Untuk memahami fenomena kota di ujung abad XX, dikotomi moderen-tradisional mungkin tak lagi relevan. Seperti juga dikotomi desa-kota makin tak relevan bagi Pulau Jawa yang terus pesat mengkota, atau menjadi semakin kabur bagi penataan kawasan pinggiran kota. Bagaimana tak bisa menyebut Depok sebagai sebuah kota satelit sekaligus dusun di pinggir kota Jakarta. Apa bedanya antara Kebon Kacang dan Bronx, selain yang satu berada di Jakarta dan satu di New York? Apa bedanya lembah Silikon dengan Serpong, Dunia Fantasi dan Disneyland, pantai Pataya, Ancol dan Malibu? Jawabannya: serupa tapi tak sama, walau banyak yang berubah. Tapi apa yang berubah misalnya, antara Jakarta kini dengan Tokyo dua dasawarsa yang lalu? Semua berubah kecuali struktur sosial yang mendasarinya.

Sementara itu, semua kota di dunia kini bisa dihubungkan melalui satelit, pemancar televisi, telefax dan modem. Batas antar ruang (waktu) menjadi nisbi. Kota-kota semakin seragam, dan budaya dalam industri-alisasi menyatu: urban culture. Entah di Surabaya atau Los Angeles, di Bangkok, Rio de Janiero, atau Manila, landscape dan tata ruang yang mirip dalam kontras struktur sosial yang tetap bercokol: yang berpunya di samping yang melarat, yang tetap tinggal dan yang tergusur, condomnium dan rumah kertas para gelandang, pusat hiburan di samping kriminalitas, Semuanya hidup dalam suatu kawasan yang disebut: kota! Seperti Jakarta (d/h Batavia) adalah pentas gerak modal dan pusat penyebaran gaya hidup yang serba sama.

Pemimpin Umum: Arselan Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widiyanto; Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto; Staf Redaksi: Nur Iman Subono, E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo; Sekretaris Redaksi: Tri Wijayati; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Sirkulasi: M. Sholeh, Sukandar; Iklan: Arys Sutarman; Tata Usaha: Nina Herliana, Sunarwanto; Produksi: Awan Dewangga, Suradi Suprapto, Yahya Sukaria.

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420; Telepon: 5663525, 5663527 (direct), 5667139, 5667141, 5674211; Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11062. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, No mor Rekening 044.0010.5; Pencetak: PT. Temprint.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan