Prisma

Pengaruh Pembangunan yang Merugikan Kaum Wanita*

Selama hampir seperempat abad belakangan ini pembangunan dipandang sebagai obat penawar untuk segala macam “penyakit” yang diderita oleh negara-negara yang terjajah. Sebarkan uang untuk membangun infrastruktur dan pembangunan akan lepas landas dengan sendirinya. Karenanya sangat tepatlah anak judul untuk buku dasar Rostow, The Stage of Economic Growth–A Non-Communist Manifests,1 karena mengungkapkan perbaikan yang dianggap sebagai suatu keharusan. Ahli-ahli pembangunan semakin sadar bahwa teori-teori tentang pembangunan yang didasarkan pada proyek-proyek padat modal mungkin memang menaikkan GNP secara keseluruhan, namun harus mengorbankan 40 persen penduduk yang sangat miskin. Perkiraan inipun sebenarnya didasarkan atas statistik tertentu yang tak memperhatikan seluruh sektor ekonomi, seperti sektor-sektor informil atau tertier, pekerjaan sambilan dan sejumlah besar pekerjaan pertanian dan pengolahan bahan makanan yang dilakukan di lingkungan keluarga. Pengamatan lebih dekat terhadap kegiatan ekonomi yang riil menunjukkan, bahwa dewasa ini kebanyakan wanita memegang peranan ekonomi yang lebih terbatas daripada dalam zaman pra-pembangunan: wanita semakin terdesak, sementara pembangunan semakin memperlebar jarak antara pendapatan pria dan wanita. Hal ini disebabkan karena pola pembangunan dari Barat mengekspor suatu pandangan kelas menengah mengenai apa yang dianggap pantas selaku pekerjaan wanita, suatu pandangan yang membatasi atau menghancurkan jenis-jenis pekerjaan tradisionil. Alhasil, pembangunan membawa pula efek-efek yang merugikan bagi kaum wanita di kebanyakan negara yang sedang berkembang.

Gerakan wanita Amerika pun tengah mempersoalkan nilai-nilai kelas menengah ini. Namun kitapun seharusnya merasa bersalah karena telah mengekspor stereotipe bila kita menganggap wanita-wanita dari luar negeri serupa dengan kita.2 Misalnya, kita melihat keluarga batih (keluarga inti) sebagai suatu yang mengekang dan kita mencari bentuk-bentuk baru untuk perkawinan. Namun beberapa peninjau wanita Asia menanggapi bahwa keluarga batih adalah tenaga pembebas utama terhadap dominasi patriarkhal dalam keluarga yang diperluas.3 Peninjau-peninjau dari Amerika Latin sebaliknya mengutarakan bahwa jaringan kekerabatan yang merupakan ciri khas keluarga-keluarga luas (keluarga besar) tradisionil di sana, sebenarnya memberikan persamaan status wanita yang lebih besar, karena adanya tugas dan kewajiban yang dibagi di dalam keluarga.4


* Tulisan ini adalah ceramah Dr. Irene Tinker, Direktur Office of International Science, American Association for the Advancement of Science, pada Comparative Area Studies Group di Universitas Duke, tanggal 12 April 1972.

1 W.W. Rostow, Tahap Pertumbuhan Ekonomi, (Cambridge University Press, 1960).

2 Emmy Bartz Simmons, “Asumsi Budaya dan Peran Perempuan dalam Pembangunan”, makalah pada Konferensi Dunia ke-14 Society for International Development, Abidjan, Pantai Gading, Agustus 1974.

3 Rama Mehta, Wanita Hindu Berpendidikan Barat, (Bombay: Asia Publishing House, 1970), hal. 203; Barbara E. Ward, Perempuan di Asia Baru, (UNESCO, 1963), hal. 80-92.

4 Ann Pescatello (ed.), Perempuan dan Laki-laki di Amerika Latin, (Pittsburgh: University of Pittsburgh Press, 1973), hal. xiv.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan