Pendahuluan
Dalam corpus sejarahnya yang terkenal, Tarikh al-Muluk wa al Umam, al-Taban menceritakan sebuah kisah yang menarik di kala pasukan Arab berhasil merebut Ctesiphon (sekarang al Madain) ibukota Persia raja terakhir dinasti Sasanid, Khosru II. Para prajurit yang dibesarkan di gurun pasir itu terpukau oleh banyaknya ragam barang jarahan yang mereka dapati di istana Khosru itu, di antaranya terdapat sejumlah tepung berbau aneh yang tidak mereka ketahui kegunaannya. Beberapa di antara mereka mencoba mengunyah tepung itu, tetapi segera mereka ludahkan kembali. Rasanya tidak enak. Baru kemudian mereka ketahui bahwa tepung itu adalah kapur barus (kapur barus), yang didatangkan para bangsawan Persia dari kawasan Nusantara untuk keperluan pengobatan. Tradisi itu kemudian diteruskan oleh para ahli kedokteran Arab, sehingga tercantum dalam farmakologi yang ditinggalkan pelopor-pelopor ilmu kedokteran Islam seperti al-Farabi, al-Kindi, Ibnu Sina dan seterusnya.
Cerita di atas menggambarkan dengan jitu hubungan kebudayaan kawasan Nusantara dan Timur Tengah: hubungan itu sendiri telah ada, tetapi berkembang dalam keadaan langkanya informasi timbal-balik antara keduanya. Kalau pun ada apresiasi atas karya-karya sastera dari kawasan Timur Tengah, seperti Kalilah Wa Dimnah, hikayat Seribu Satu Malam dan Sinbad Si Pelaut, maka pengenalan atasnya dilakukan melalui penterjemahan dari bahasa Barat. Kalaupun ada sedikit pengetahuan kita tentang arsitektur kawasan itu melalui deskripsi-deskripsi dangkal tentang piramid dan sphynx, ia hanya diperoleh melalui tulisan orang-orang Eropa. Sudah tentu kwantitas dan kwalitas pengenalan itu sendiri lalu menjadi bergantung pada “saringan” oleh pihak ketiga itu. Umpamanya saja, hampir-hampir tak dikenal karya-karya puisi para penyair Arab sebelum Islam, karena sulitnya meragakan keindahannya melalui dua kali penterjemahan. Begitu pula, ketidak-mampuan pihak ketiga itu untuk memahami simbolisme yang terdapat dalam karya-karya arsitektur yang indah, seperti bangunan yang ditata pada dinding terjal batu gunung di Petra (Anbat, Jordan Selatan), sedikit sekali mendorong kita untuk melakukan pengenalan mendalam atas arsitektur kuno Timur Tengah di luar cakupan wilayah Mesir.
Walaupun kawasan Timur Tengah merupakan kancah yang dipenuhi peristiwa sejarah, sedikit sekali kita kenal pertumbuhan kesejarahan bangsa-bangsa di kawasan itu, di luar beberapa kejadian penting seperti upaya Alexander Agung untuk menciptakan imperium dunia dan peristiwa kelahiran Islam dan Kristen sebagai dua agama dunia. Bahkan pertumbuhan agama Yahudi juga sedikit sekali dikenal, padahal setidak-tidaknya ia terlibat secara intensif dalam sebuah interaksi kultural yang berkeputusan dengan kedua agama yang terkemudian darinya itu. Abu Nawas di sini dikenal sebagai tokoh jenaka yang hidup dalam legenda yang indah ratusan tahun umurnya. Tetapi orang tidak tahu di sini, bahwa nama itu adalah milik seorang penyair hedonis terkemuka di zaman dinasti Abbasiah yang pertama. Karena kejengkelan para agamawan terhadapnyalah lalu namanya dipakaikan kepada tokoh jena-ka itu, yang di beberapa negeri Timur Te-ngah sendiri lebih, dikenal dengan nama Juha ( di satu dua wilayah juga di kenal de-ngan nama Mulla Nasruddin).