Pelajaran Analisa Dampak dari Jawa Tengah
Di tengah iklim kebijakan yang diskriminatif, industri kecil tetap mempertontonkan daya tahan yang mengagumkan dalam menghadapi gempuran persaingan yang datang dari industri skala besar. Bagaimana bentuk dan hasil pembinaan industri kecil di Indonesia? Laporan penelitian terhadap beberapa sentra industri kecil di Jawa Tengah memberikan gambaran yang menarik. Secara rata-rata ternyata tingkat partisipasi dari berbagai pembinaan industri kecil masih rendah, selain program itu kurang koordinatif. Dirasakan perlunya desentralisasi pembinaan sesuai dengan spesifikasi persoalan yang dihadapi.
Agak mengherankan bahwa komitmen yang besar terhadap upaya-upaya pengembangan industri kecil di banyak negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, ternyata tidak dibarengi dengan kajian serius tentang sejauh mana berbagai program pembinaan terhadap industri kecil itu telah menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Sebaliknya yang lebih banyak terlihat adalah akumulasi studi dan rekomendasi baru yang tak berkesudahan.
Tulisan ini berusaha melihat dampak berbagai upaya pembinaan dan pengembangan industri kecil terhadap kemampuan industri kecil dalam menciptakan kesempatan kerja produktif.1 Penelitian dilakukan terhadap enam sentra industri di Jawa Tengah — propinsi yang dikenal sebagai “the heartland of small scale industrial employment in Indonesia.” Perhatian akan dipusatkan pada inventarisasi berbagai program pembinaan yang ada di sentra-sentra industri tersebut dan apa dampaknya dilihat dari segi kesempatan kerja yang diciptakan. Disadari bahwa penciptaan kesempatan kerja merupakan agenda ekonomi penting — untuk tidak mengatakan yang terpenting — yang dihadapi Indonesia di tahun-tahun mendatang.
Diskriminasi Kebijakan dan Daya Hidup Industri Kecil
Arti penting industri kecil dalam perekonomian di negara-negara sedang berkembang telah lama disadari dan diakui oleh para ahli ekonomi pembangunan.2 Industri kecil selalu ditunjuk sebagai sektor kunci dalam penciptaan kesempatan kerja, mengingat untuk menghasilkan sejumlah output tertentu, efek kesempatan kerja yang diciptakan oleh industri kecil akan lebih besar daripada efek serupa yang dihasilkan oleh industri besar. Selain itu, dari sifat sebarannya dan keterkaitannya yang erat dengan sektor pertanian, industri kecil juga sangat potensial untuk mendorong kemajuan ekonomi pedesaan.3
Namun, berbagai kajian menunjukkan, perkembangan industri kecil sering dirugikan oleh berbagai kebijakan industrial yang menguntungkan industri skala besar (scale-biased industrial policy), seperti dalam kebijakan tentang investasi proteksi, perkreditan dan perpajakan. Bruch dan Hiemenz, misalnya, menunjukkan bahwa tingkat proteksi efektif di negara-negara ASEAN cenderung lebih tinggi untuk bidang-bidang industri dengan kontribusi produksi industri kecil yang rendah.4 Sementara Saleh mengemukakan bahwa pola pengenaan pajak penjualan di negara-negara ASEAN ternyata merangsang terciptanya integrasi vertikal dalam proses produksi, yang dengan begitu berarti membuka jalan bagi terbentuknya usaha-usaha yang berskala lebih besar.5 Bidang usaha industri kecil juga sering menjadi korban pertama dari kebijakan ekonomi yang secara agresif mengundang masuk arus modal asing.
Di tengah-tengah iklim kebijakan yang diskriminatif, memang wajar jika disparitas perkembangan industri antarskala menjadi semakin melebar. Meskipun demikian, industri kecil tetap mempertontonkan daya tahan yang mengagumkan. Para ekonom biasanya menyebutkan lima keadaan yang memungkinkan industri kecil bertahan dari gempuran persaingan yang datang dari industri skala besar.6
Pertama, usaha industri kecil tersebut bergerak dalam pasar yang terpecah-pecah (fragmented market). Dalam pasar yang demikian, fenomena skala ekonomi tidak terlalu penting, sehingga keuntungan yang diperoleh dari besaran (skala) usaha tidaklah menonjol. Pasar yang demikian memiliki segmen-segmen konsumen yang sangat bervariasi.
1 Versi lain tulisan ini, dari pengarang yang sama, akan dimuat dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies (Canberra, Australian National University, 1994). Kami sangat berterima kasih atas bantuan Departemen Perindustrian beserta eselon di bawahnya yang amat membantu pelaksanaan penelitian. Secara khusus terima kasih kepada Daniel Kameo, Hari Sunarto, Gatot Sasongko, Johnson Dongoran, Wiratmo dan Arthur van Schaik yang telah berpartisipasi dalam penelitian lapangan dengan analisa data. Terima kasih pula kepada Youdi Schipper dan Neils V Laanderen yang bertanggung jawab atas pengolahan data.
2 Untuk menyebut dua studi awal dalam bidang ini, lihat B.F. Hoselitz “Small Industry in Underdeveloped Countries,” dalam Journal of Economic History, Vol.19, 1959; E.Staley dan R. Morse, Modern Small-Scale Industry for Developing Countries (New York, McGraw-Hill, 1965).
3 Peranan lain dari industri kecil yang juga sering disebut-sebut adalah kontribusinya terhadap penerimaan ekspor, sifatnya yang lebih banyak memanfaatkan berbagai sumber daya domestik-lokal, dan ajang latihan kewirausahaan yang murah dan efektif.
4 Mathias Bruch dan Ulrich Hiemenz, Small and Medium-Scale Industries in the ASEAN Countries: Agents or Victims of Economic Development? (Boulder and London; Westview Press, 1984) hal. 58-59.
5 Irsan Azhary Saleh, Industri Kecil: Sebuah Tinjauan dan Perbandingan (Jakarta: LP3ES, 1991) hal.6.
6 Bandingkan dengan Dennis Anderson, Small Industry in Developing Countries (World Bank Staff Working Papers, No.518, 1982) hal. 22-24.