Pertanian Industri Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Tantangan pembangunan pertanian Indonesia masa mendatang terkait dengan perubahan ekonomi dunia dan sistem pertanian dalam negeri. Pertanian industri yang dikembangkan akhirnya tergantung pada efisiensi dan produktivitas jangka panjang pertanian itu sendiri, apalagi didukung oleh kapabilitas sistem institusi penelitian dan pengembangan pertanian yang mampu melakukan inovasi terus-menerus. Karena itu persoalan yang patut dibahas adalah upaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar menjadi bagian kebudayaan pertanian Indonesia atau prime mover dalam menggerakkan pertanian industri.
Dalam pembangunan nasional, sektor pertanian merupakan sektor strategis untuk menyediakan kebutuhan pangan, bahan baku industri, lapangan pekerjaan dan sumber pendapatan, serta mengatasi masalah-masalah kemiskinan dan kesenjangan. Dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II pertumbuhan PDB sektor pertanian diproyeksikan rata-rata 3,5 persen pertahun. Pada akhir PJP II, kontribusi sektor ini terhadap PDB diperkirakan menjadi 9,2 persen, turun dari 17,4 persen pada awal PJP II. Sedangkan dalam hal penyerapan tenaga kerja nasional, sektor ini masih akan menampung sekitar 27,7 persen pada akhir PJP II. Artinya, sekitar satu dari setiap 4 orang tenaga kerja di Indonesia masih bekerja di sektor pertanian. Bila seluruh anggota keluarga dari tenaga kerja tersebut diperhitungkan, maka sampai akhir PJP II jumlah penduduk yang masih tergantung dari sektor pertanian sangat tinggi.
Tantangan utama yang dihadapi dalam pembangunan pertanian pada masa mendatang secara umum berkaitan dengan terjadinya perubahan fundamental dalam sistem perekonomian dunia yaitu liberalisasi perdagangan internasional di satu pihak dan permasalahan struktural yang berada dalam sistem pertanian di dalam negeri di pihak lain. Untuk menghadapi tantangan itu berbagai pemikiran telah dikembangkan. Salah satu di antaranya adalah pokok pikiran mengenai “Membangun Pertanian Abad Ke-21: Menuju Pertanian yang Berkebudayaan Industri” yang disampaikan oleh Ginandjar Kartasasmita pada Dies Natalis ke-33 Institut Pertanian Bogor, 3 Agustus 1996.$n^$1^n$^ Tema pembahasan dalam uraian pertanian yang berkebudayaan industri (diringkas: pertanian industri) tersebut adalah “membuat kebudayaan industrial itu menjadi kebudayaannya pertanian di Indonesia.”
Ciri dari kebudayaan industrial menurut Ginandjar Kartasasmita adalah (a) pengetahuan merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan, (b) kemajuan teknologi merupakan instrumen utama dalam pemanfaatan sumber daya, (c) mekanisme pasar merupakan media utama dalam transaksi barang dan jasa, (d) efisiensi dan produktivitas sebagai dasar utama dalam alokasi sumber daya dan karena itu membuat hemat dalam penggunaan sumber daya, (e) mutu dan keunggulan merupakan orientasi, wacana, sekaligus tujuan, (f) profesionalisme merupakan karakter yang menonjol dan (g) perekayasaan harus menggantikan ketergantungan pada alam sehingga setiap produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan lebih dahulu dalam mutu, jumlah, berat, volume, bentuk, ukuran, warna, rasa, dan sifat-sifat lainnya, dengan ketepatan waktu.
$n^$1^n$^ Lihat Ginandjar Kartasasmita, “Membangun Pertanian Abad-21: Menuju Pertanian yang Berkebudayaan Industri,” makalah disampaikan pada Dies Natalis ke-33 Institut Pertanian Bogor, 31 Agustus 1996. Pemikiran lain dari Kartasasmita yang berhubungan dengan gagasan ini adalah “Arah Kebijaksanaan dan Perencanaan Pembangunan Pertanian pada Repelita VII,” makalah disajikan pada Simposium Nasional dan Kongres Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI), Jakarta 25 Juni 1996; “Meningkatkan Daya Saing Pertanian dalam Rangka Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Nasional,” makalah disajikan pada Seminar Nasional dalam Rangka Kongres Nasional ke XI dan Kompernas ke XII Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) Denpasar, 9 Agustus 1996; “Mewujudkan Insinyur Indonesia yang Kompeten dan Profesional dalam Rangka Meningkatkan Pembangunan Nasional,” makalah disajikan pada Konperensi dan Seminar Nasional Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Jakarta, 8 Agustus 1996.