Prisma

Pengkajian Sastra Peranakan Tionghoa Di Indonesia

Sebuah Catatan*

Kajian tentang sastra dalam zaman Indonesia kontemporer semakin bertebaran. Ironisnya, pengkajian sastra peranakan Tionghoa di Indonesia sebelum dan setelah perang dunia kedua amat langka. Banyak faktor menjadikan sastra tersebut sengaja dilupakan, umumnya bahasa atau mutu. Menurut Leo Suryadinata, sudah saatnya dilakukan studi lebih mendalam untuk memperoleh pemahaman lebih baik akan peran sastra peranakan Tionghoa. Sastra peranakan memang sudah menjadi sejarah; sebagian dari sejarah sastra Indonesia.

Pendahuluan

Tulisan ini hendak membahas pengkajian sastra peranakan sebelum dan sesudah Perang Dunia Kedua. Beberapa tokoh dalam pengkajian sastra peranakan ini serta karya mereka juga akan diulas. Masalah tentang arti pentingnya sastra ini dalam sastra moderen Indonesia, lenyap atau tidaknya sastra peranakan Tionghoa akan dikemukakan di samping masalah peninjauan kembali sastra peranakan ini.

Pengkajian Sebelum Indonesia Merdeka

Sastra peranakan Tionghoa atau Sastra Melayu-Tionghoa sudah lama sejarahnya,1 namun pada masa lampau sastra ini tidak banyak menarik perhatian para sarjana. Umumnya mereka menganggap sastra peranakan Tionghoa ini ditulis dalam bahasa Melayu-Tionghoa, bukan bahasa Indonesia yang baku (maksudnya bahasa Balai Poestaka), karena itu rendah mutunya. Bahasa Melayu-Tionghoa yang juga dikenal sebagai bahasa Melayu Rendah dianggap sebagai bahasa kampung-an, padahal bahasa itu juga dipakai oleh banyak pengarang pribumi dan wartawan pribumi, sekurang-kurangnya pada masa sebelum tahun tigapuluhan. Bahasa Melayu Rendah itu dipakai secara luas sehingga semua koran dan buku yang bukan diterbitkan oleh pemerintah dicetak dalam bahasa tersebut. Pramoedya Ananta Toer menyebutnya “bahasa kerja” (lawan dari bahasa sekolah). Bukanlah secara kebetulan jikalau banyak penulis yang berhaluan nasionalis dan ideologi kiri sebelum dan sesudah berdirinya Bureau van de Volkslectuur menulis dalam bahasa kerja itu. Misalnya Tirto Adhi Soerjo, Mas Marco dan Semaun, semuanya menerbitkan buah karya mereka dalam bahasa tersebut. Sudah tentu karya-karya ini tidak disenangi penguasa kolonial dan dianggap membahayakan kestabilan masyarakat. Konon, salah satu cara mendiskreditkan tulisan-tulisan itu dengan dalih bahwa mereka menggunakan bahasa “Melayu Rendah” dan tidak patut dibaca.2

Ada yang mengatakan pemerintah kolonial Belanda telah berhasil dalam strateginya mengasingkan bahasa Melayu Rendah/Melayu-Tionghoa ini, sehingga sejak tahun 1930-an para pengarang pribumi hanya menulis dalam bahasa Melayu/Indonesia baku, bahasa yang dipakai di sekolah-sekolah pemerintah. Bahasa itu adalah bahasa Balai Poestaka.3 Sejak itu baik sastra Melayu Rendah maupun sastra peranakan Tionghoa menjadi sastra kelas kambing dan juga dianggap bukan bagian dari sastra Indonesia yang baik.

Dapatlah dimengerti, sebelum Perang Dunia Kedua tidak ada perhatian terhadap sastra peranakan ini. Kajian tentang sastra ini, kalau boleh dikatakan kajian, umumnya berbentuk karangan-karangan pendek. Setahu penulis, Sutan Takdir Alisjahbana pernah menulis sebuah karangan yang membicarakan bahasa Indonesia yang digunakan oleh pengarang peranakan Tionghoa.4 Ia berpendapat bahwa bahasa yang digunakan para pengarang Tionghoa itu hidup sekali, walaupun tak sebaik bahasa Indonesia resmi yang digunakan waktu itu. Sayangnya, Takdir tidak mengkaji baik bahasa maupun sastra peranakan secara lebih mendalam.

Beberapa penulis peranakan Tionghoa sendiri juga pernah membahas buah karya pengarang peranakan ini dan dimuat dalam Sin Po Weekblad dan majalah Liberty, akan tetapi umumnya karangan-karangan ini hanya membahas beberapa penulis dan buahkarya mereka.5 Tidak ada sebuah studi yang rinci dan menyeluruh.

Pengkajian Sesudah Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka, sastra peranakan Tionghoa mulai mendapat perhatian. Tetapi, perhatian ini mula-mula hanya di kalangan peranakan Tionghoa sendiri. Umumnya (mungkin kecuali Pramoedya Ananta Toer)6 para penulis dan sarjana pribumi masih kurang tertarik pada sastra ini, mungkin karena sastra ini dianggap rendah mutunya.


* Makalah ini ditulis untuk seminar tentang Bahasa dan Sastra Melayu-Tionghoa yang diselenggarakan Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 11-12 Februari 1992. Makalah ini diterbitkan dengan sedikit perubahan namun masih belum memasukkan kajian-kajian yang diajukan dalam seminar tersebut maupun studi-studi yang sedang dilakukan. Penulis berharap bisa menulis sebuah kajian lebih lengkap pada masa yang akan datang.

1 Dalam makalah ini, penulis menggunakan istilah sastra peranakan Tionghoa, bukan sastra Melayu Tionghoa, karena sastra yang ditulis dalam bahasa Melayu-Tionghoa atau Melayu Rendah sebelum Perang Dunia Kedua. Sastra peranakan Tionghoa lebih luas, yaitu sastra yang ditulis oleh peranakan Tionghoa secara umum. Ini juga termasuk sastra yang dihasilkan seusai Perang Dunia Kedua oleh pengarang keturunan Tionghoa di Indonesia.

2 Bureau van de Volkslectuur atau Balai Pustaka didirikan pada tahun 1908 oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mempopulerkan bahasa “Melayu Tinggi.”

3 Untuk argumentasi ini, lihat makalah Hendrik H.J. Maier, “Forms of Cencorship in the Dutch Indies: The Marginalization of Chinese-Malay Literature,” dimuat dalam Indonesia (Cornell University, 1991), hal. 67-81.

4 Sutan Takdir Alisjahbana, “Kedoedoekan Bahasa Melajoe Tionghoa,” Poedjangga Baroe, Oktober 1934. Dicetak ulang dalam Sutan Takdir Alisjahbana, Dari Perdjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (Jakarta: PT Pustaka Rakyat, 1957), hal. 55-61.

5 Misalnya Tzu You, “Dari Doenia Pengarang Im Yang Tjoe,” Sin Po Weekblad, Thn. 16, No. 819 (10 Desember 1938), hal. 7-11; Tzu You, “Dari Doenia Pengarang Liem Khing Hoo,” Sin Po Weekblad, Thn. 16, No. 831 (4 Maret 1939), hal. 5-12; Tzu You, “Aku Poenja Kawan Penoelis (Liem Kiem Hoo),” Liberty, No. 151, 12 Oktober 1940, hal. 31-35.

6 Pramoedya pada tahun 1963 mengasuh rubrik “Lentera” di harian Bintang Timur. Ia menulis tentang sastra peranakan Tionghoa dalam konteks sastra pra-Indonesia bersama dengan buahkarya lain yang ditulis dalam bahasa Melayu Rendah (atau Bahasa Kerja, sebutan yang diberikan Pram). Baca misalnya karangannya, “Sastra Assimilatif: Sastra Pra-Indonesia,” Bintang Timur, 24 November 1963, 1, 8 dan 15 Desember 1963. Namun kajian Pram mengenai sastra peranakan boleh dibilang tidak mendalam. Kira-kira duapuluh tahun kemudian, Pram mengemukakan pendapatnya yang sama dalam bab pengantar bukunya yang berjudul Tempo Doeloe (Jakarta: Hasta Mitra, 1982). Pram pada awal 1960-an juga mengajar di Universitas Res Publica (Ureca) di Jakarta. Ia membimbing beberapa mahasiswanya untuk meneliti kesusastraan “Melayu Rendah” ini dan muncullah beberapa skripsi sarjana muda sastra yang mengambil tema sastra peranakan. Skripsi-skripsi ini tidak banyak diketahui orang.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan