Apa sesungguhnya yang mendorong orang desa untuk mengirimkan anaknya ke sekolah? Kerap kali disebut saja bahwa orang desa tidak mempunyai motivasi yang tinggi untuk bersekolah. Namun Sukartawi menemukan suatu kenyataan yang menarik. Tidak selamanya mereka tidak melanjutkan sekolahnya karena mereka miskin, tetapi sebaliknya. Justeru yang mampu, dengan ukuran penguasaan atas luasnya tanah, yang tidak melanjutkan sekolahnya. Tanah tetap menjadi harta yang tidak tergantikan, sehingga di saat harus memilih antara mengolah tanah atau sekolah mereka akan memilih yang pertama.
Membicarakan masalah pendidikan di pedesaan, khususnya pendidikan anak-anak, tidaklah terlepas dari sistem sosial yang ada di masyarakat kita. Adalah suatu hal yang umum bahwa orangtua di dalam memasukkan anaknya ke sekolah sejak di Sekolah Dasar (SD) di desanya, terkandung harapan agar anak itu dapat memperoleh lapangan kerja yang lebih layak di masa mendatang. Seringkali orangtua menyesal mengapa ia tidak menikmati pendidikan di masa lampau, tetapi penyesalan itu justru dapat membangkitkan semangat melalui suatu tekad untuk menyekolahkan anaknya. Tidak jarang dijumpai, harta benda yang dimiliki dihabiskan untuk biaya sekolah anaknya.
Namun demikian, tidak semua petani memiliki jalan pikiran yang demikian. Sering ditemukan adanya larangan bersekolah bagi anaknya, hanya karena kebutuhan ekonomi yang mendesak. Anak itu berhenti sekolah untuk melakukan suatu pekerjaan memperoleh uang, sekalipun terkadang ia belum dalam usia kerja. Masalahnya terletak pada golongan petani mana yang memiliki opini, bahwa pendidikan anak-anak suatu investasi manusia yang tidak ternilai harganya.
Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat masalah itu, yaitu golongan petani mana yang memiliki motivasi pendidikan yang tinggi terhadap kehendak menyekolahkan anak-anaknya. Data diambil di dua desa yang mempunyai tipe ekologi yang berbeda, yaitu desa Petung yang merupakan desa tegalan di pegunungan dan desa tipe tambak, di Sungunlegowo. Data diambil dari hasil penelitian daerah marginal1 dan partial census Penelitian Studi Dinamika Pedesaan (SDP) Jawa Timur.2
Tabel 1 memberikan petunjuk bahwa proporsi penduduk di bawah usia 14 tahun, di desa Petung lebih tinggi dari Sungunlegowo. Begitu pula kalau dilihat dari segi kepadatan penduduk terjadi hal yang sama. Di Petung kepadatan penduduk terhadap luas tegalan dan pekarangan adalah 70 orang per kilometer persegi atau 53 orang per kilometer persegi untuk luas tanah pertanian, sedangkan di Sungunlegowo 41 orang per kilometer persegi persegi tanah tambak atau 34 orang per kilometer persegi tanah pertanian dan tambak. Perbedaan ini lebih banyak dipengaruhi oleh kesempatan-kesempatan ekonomi yang tersedia.
* Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu, khususnya teman-teman staf SDP Jawa Timur
1 Penelitian di daerah marginal ini berjudul: Studi Pendapatan, Ketenagakerjaan, Kelembagaan dan Pengelolaan Sumber-sumber Daya di Desa-desa Daerah Marginal di Jawa Timur. Dilakukan oleh Soekartawi, Sanggar Kanto, Hamid Hidayat dan M. Roedhi, 1977.
2 Partial Census Penelitian SDP, dilakukan pada bulan Juli-Agustus 1978.