I
Pada permulaan tahun 1978, bulan Syuro, saya mengunjungi pantai Parangtritis, sebagai turis domestik. Menginap di losmen Pak Dullah, saya tertarik mengamati seorang dari daerah Solo, yang sengaja ke sana bersamadi “bersatu dengan alam” menemukan diri dalam harmoni jagad. Ini seorang Indonesia-Jawa. Pak Dullah juga orang Indonesia-Jawa. Tamu penziarah ke Laut Kidul itu ternyata seorang pemborong. Setiap tahun ia datang bersamadi di sana. Saya tanya Pak Dullah: “Apakah Pak Dullah sendiri juga biasa bersamadi di bukit pasir itu”? Jawab Pak Dullah:” Bersamadi itu baik. Samadi saya inilah (sambil memandang ruang losmen). Lalu melanjutkan: “Saya mencari nafkah untuk anak-anak saya (pada saat itu kebetulan terdengar tangis bayi di bagian belakang ruangan). Itulah samadi saya”. Dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta saya mengamati para petani, yang sibuk di tengah sawah sebagai barisan “samadi”, bersatu dengan alam, di tengah alam sendiri. Siapakah yang mewakili Indonesia, manusia Indonesia yang ini atau yang itu?
Paham kebangsaan (Indonesia) dan kaum intelektual
Sejak lahirnya paham kebangsaan Indonesia, rasionalisme telah diadopsi sebagai unsur budaya baru, melalui pendidikan kolonial Barat, menumbuhkan kesadaran dan sikap baru pada permulaan abad ini. Lahirlah kaum intelektual, elite baru, pelopor dari paham kemerdekaan berdasarkan nasionalisme dengan cita-cita demokrasi di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Cita-cita ekonomi nasional, budaya nasional, merupakan dua sisi dari suatu state of mind, yaitu gerakan kebangsaan Indonesia yang melahirkan Republik Indonesia di tahun 1945. Dalam paham itu tercakuplah bentangan ragam, corak warna dan kecenderungan, kebinekaan kiblat intelektual ditentukan oleh tempaan ideologis sesuai “sejarah” perorangan atau kelompok intelektual, bertalian dengan latarbelakang sosial dan latarbelakang pendidikan yang ditempuh oleh masing-masing. Namun di bawah kebinekaan itu terdapatlah warna dasar yaitu cita-cita kebangsaan moderen yang mengikat dan mempersatukannya. Bukan tidak ada tendensi lain, yaitu tendensi yang berlawanan dengan cita-cita umum itu. Tendensi-tendensi yang a-nasional adalah bersifat marjinal, tapi kadang-kadang muncul sebagai penghalang yang bercokol dalam kekuasaan kolonial. Posisi intelektual di dalamnya, seperti di masyarakat mana pun juga sangat ditentukan oleh struktur ekonomi dan sosial. Kaum intelektual nasionalis, mengatasi determinisme ekonomis, melalui kesadaran berbangsa dan bermasyarakat, yang berbudaya sendiri dan punya sejarah sendiri, mencari alternatif atas penjajahan. Kesadaran demikian dimiliki oleh pelopor-pelopor gerakan kebangsaan sebagai intelektual, sebagai kesadaran kepribadian, sebagai identitas nasional. Identitas nasional ini, bertumbuh sebagai antitese terhadap feodalisme (masa lalu yang ditolak) dan terhadap kolonialisme ekonomi, sosial dan budaya.