Pengendalian Serta Sistem Penghargaan Terhadap Pencapaian Laba*
Aspek manajerial dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi sangat penting mengingat perekonomian yang makin mengglobal. Karena itu pengelolaan badan usaha milik negara diharapkan dapat dilakukan secara efisien dan menghasilkan laba yang besar sebagai sumber dana pembangunan. Hasil penelitian Ria Ratna Ariawati di PTP (Perseroan Terbatas Perkebunan) menunjukkan bahwa dengan diberi peran yang lebih luas pada manajer dalam penyusunan anggaran dan pengendalian, adanya harapan atas penghargaan dan penilaian pribadi manajer atas penghargaan sangat berpengaruh pada upaya manajer untuk berprestasi dan pencapaian laba perusahaan.
Perseroan Terbatas Perkebunan (PTP) merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sangat penting dan diperlukan dalam pembangunan. Karena itu PTP harus dikelola seefisien mungkin seperti halnya suatu badan usaha. PTP juga mempunyai kewajiban yang sama seperti persero-persero milik pemerintah lainnya sebagai salah satu sumber pendapatan dalam pembangunan. Untuk itu PTP-PTP harus mampu berdiri sendiri melalui pencapaian laba yang dapat diandalkan untuk menjaga kelangsungan hidupnya, bahkan jika mungkin mengembangkannya menjadi usaha yang tangguh.
Untuk mencapai dan meningkatkan laba PTP telah melakukan berbagai cara, di antaranya melalui peningkatan peran manajer dalam mengelola perusahaan karena secara operasional merekalah yang bertanggungjawab atas pencapaian laba. Upaya PTP untuk meningkatkan prestasi para manajer antara lain dilakukan dengan: (1) Melibatkan para manajer secara lebih jauh dalam penyusunan anggaran perusahaan dan pengendaliannya; (2) Memberikan berbagai macam perangsang berupa tunjangan, pembagian laba serta penghargaan-penghargaan lainnya.
Berhasil atau tidaknya upaya tersebut sangat dipengaruhi oleh sikap dan persepsi para manajer terhadap peran mereka dalam penyusunan anggaran dan pengendalian serta sikap dan persepsi mereka terhadap kesejahteraan yang diterimanya dari perusahaan. Adanya berbagai perangsang berupa tunjangan-tunjangan serta pembagian laba akan memberikan harapan serta penilaian pribadi atas penghargaan tersebut. Hal ini diharapkan akan mendorong para manajer untuk terus meningkatkan prestasinya.
Banyak pakar yang berpendapat bahwa penyusunan anggaran dan pengendalian bagi suatu organisasi serta sistem penghargaan yang diberikan kepada anggota organisasi merupakan hal penting dalam akuntansi manajemen.
Anthony, Welsch dan Reece menyatakan bahwa anggaran disusun dengan tujuan-tujuan sebagai berikut: (1) Sebagai alat bantu dalam penyusunan dan mengkoordinasikan rencana jangka pendek; (2) Sebagai alat untuk mengkomunikasikan rencana tersebut kepada seluruh manajer pusat-pusat pertanggungjawaban; (3) Sebagai suatu cara untuk memotivasi para manajer untuk mencapai tujuan pusat-pusat pertanggungjawaban (responsibility centers) yang menjadi tanggungjawabnya; (4) Merupakan suatu cara untuk mengendalikan aktivitas yang sedang berjalan; (5) Sebagai dasar untuk mengevaluasi kinerja suatu pusat pertanggungjawaban serta para manajernya dan (6) Suatu alat untuk mendidik para manajer1
Lebih lanjut Caplan mengemukakan penganggaran partisipatif merupakan aplikasi teori perilaku (behavioral theory) dalam organisasi bisnis dan sangat direkomendasikan sebagai metode untuk meningkatkan keefektifan akuntansi manajemen.2
Sehubungan dengan peran manajer, Kenis menyatakan bahwa dilibatkannya para manajer dalam penetapan tujuan anggaran akan mendorong mereka untuk mengidentifikasi tujuan yang harus dicapai, menerima anggaran tersebut sepenuhnya serta berusaha mencapai tujuan tersebut.3
Dengan demikian keikutsertaan anggota organisasi (dalam hal ini para manajer) dalam penyusunan anggaran dan pengendalian atas pelaksanaan mempunyai dampak positif terhadap akuntansi manajemen, khususnya akuntansi pertanggungjawaban (Responsibility Accounting). Keterlibatan manajemen dalam penyusunan anggaran dan pengendalian pelaksanaannya akan memotivasi mereka untuk melaksanakan anggaran pada unit organisasi yang dipimpinnya sebaik mungkin sehingga pencapaian tujuan dapat dilakukan dengan maksimal.
Selanjutnya apakah benar bahwa pemberian penghargaan bagi mereka yang berjasa terhadap pencapaian laba perusahaan juga akan memotivasi anggota organisasi (dalam hal ini para manajer) untuk berprestasi lebih tinggi? Dan bagaimana pengaruh upaya para manajer untuk berprestasi terhadap pencapaian laba perusahaan? Flippo mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: Sepanjang menyangkut kepentingan organisasi, maka program balas jasa bagi para anggota organisasi dirancang untuk: (1) menarik karyawan yang unggul untuk masuk ke dalam organisasi; (2) memotivasi (mendorong) karyawan untuk menghasilkan kinerja yang tinggi dan (3) mempertahankan jasa-jasanya dalam perusahaan untuk jangka panjang.4
1 Robert N. Anthony, Glenn A. Welsch and James S. Reece, Fundamentals of Management Accounting, 4th Edition (Homewood, Illinois, Richard D.Irwin Inc., 1985), hal 629.
2 Edwin H. Caplan, Management Accounting and Behavioral Science (Philippines, Addison-Wesley Publishing Company Inc., 1971), hal 88.
3 Izzetin Kenis, “Effects of Budgetary Goal Characteristics on Managerial Attitudes and Performance,” The Accounting Review Vol. LIV, No.4, October 1979, hal 709.
4 Edwin B. Flippo, Personnel Management. Fifth Edition (Tokyo, International Student Edition, McGraw Hill Kogakusha, Ltd., 1987), hal 249.