Prisma

Peran Pria dan Wanita dalam Beberapa Cerita Daerah

Dalam cerita-cerita daerah, dengan berbagai gaya dan isinya, masalah seks dalam arti hubungan khusus laki-laki dan wanita sering diungkapkan. Pesan yang ingin disampaikan dari soal seks di sana bisa berupa nilai-nilai tertentu atau juga tempat-tempat khusus di suatu daerah. Edy Sedyawati, melalui pemaparan cerita-cerita daerah dari berbagai wilayah, menemukan bahwa peran dan posisi wanita setara dengan laki-laki, dan bahkan lebih penting, dalam pranata-pranata tertentu.

SEKS dalam karangan ini dilihat khususnya pada segi hubungan pria-wanita. Berbagai ungkapan sastera tradisi, baik lisan maupun tertulis, bercerita mengenai hubungan pria-wanita itu. Makna cerita yang diharapkan dipetik dari situ beraneka macam. Ada cerita yang dimaksudkan sebagai penjelasan (yang biasanya dinyatakan sebagai “asal-usul”) dari tabu tertentu yang dikenal dalam suatu masyarakat. Ada pula cerita yang berupa legenda, yang menjelaskan terjadinya tempat-tempat tertentu. Ada pula cerita yang hendak mengajarkan nilai-nilainya, dengan menceriterakan kelakuan-kelakuan, baik yang terpuji maupun tercela. Ada lagi cerita yang dapat dilihat sebagai penjelasan mengenai struktur masyarakat.

Dalam cerita-cerita dengan keempat jenis tujuan itu sering terkait secara khusus masalah hubungan wanita-pria, yang menjelaskan baik hakekat identitas mereka masing-masing maupun peranan khas yang diharapkan untuk mereka jalankan di dalam masyarakat. Peranan itu dapat pula menyangkut pewarisan khasanah budaya, dan seksual biologis.

Cerita-cerita yang ditampilkan sebagai contoh dalam karangan ini diambil seadanya saja, tanpa suatu sistematika pemilihan tertentu. Namun demikian diusahakan agar contoh cerita wilayah Indonesia bagian barat dan timur ini ditampilkan, tanpa pamrih untuk menganggapnya dapat mewakili seluruh Indonesia. Beberapa cerita akan dipaparkan, diikuti oleh ulasan mengenai pokok-pokok yang terkandung di dalamnya. Di sana-sini akan diberikan bandingan dengan hal-hal yang terdapat dalam cerita lain. Bahan bandingan ini kebanyakan diambil dari cerita-cerita Jawa. Hal ini adalah semata-mata karena keterbatasan. Diharapkan agar ahli-ahli sastra daerah lain di kemudian hari dapat menambah bahan-bahan bandingan tersebut.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan