Dalam ilmu-ilmu sosial, memang tidak mudah untuk membatasi suatu konsep sedemikian rupa, hingga batasan itu dapat mencakup kesepakatan umum di antara para ahli dan sekaligus menjelaskan serta melukiskan prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya. Kesukaran yang sama timbul juga dalam memberikan batasan mengenai istilah intelektual dan inteligensia. Kertas kerja ahli dari Filipina yang berjudul “Motivating Intellectuals for Development”1, menurunkan sebuah daftar definisi dari berbagai pengarang, tanpa menawarkan suatu definisi pun untuk dipilih. Namun benar juga bahwa semua definisi itu sebagian besar membentuk pengertian yang sama tentang pokok masalahnya, dengan menekankan segi yang berbeda-beda. Dengan demikian pembaca dibiarkan menentukan sendiri apa yang harus diambilnya dari berbagai penjelasan itu dan sesudah itu mengecek sendiri validitas interpretasi itu dalam kerangka lingkungan sosial dan lingkungan budayanya.
Demi menjamin ketepatan, kertas-kerja ini hendak mengambil sebagai titik-tolaknya penjelasan dari Oxford Advanced Learners’ Dictionary. Kamus ini memberi batasan, bahwa “Intellectual” adalah orang-orang yang mempunyai atau menunjukkan kemampuan nalar (reasoning power) yang baik, yang tertarik kepada hal-hal rohani (things of mind), seperti kesenian atau ide-ide demi seni atau ide itu sendiri. Selanjutnya menurut kamus itu, konsep “intelligentsia” harus difahami sebagai bagian komunitas yang dapat dipandang atau yang memandang dirinya sebagai intelektual, yang mempunyai kemampuan untuk sungguh-sungguh berfikir bebas. Berdasarkan tafsiran-tafsiran ini, maka konsep “intelektual” dalam arti mereka yang dipandang atau memandang dirinya sebagai intelektual-harus dianggap sama dengan konsep “inteligensia”.
* Artikel ini merupakan terjemahan dari kertas kerja penulis dalam bahasa Inggeris, “The Changing Role of Intellectuals in Indonesian National Development: A socio-historical interpretation” disampaikan dalam Seminar tentang peranan Inteligensia dalam masyarakat Asia dewasa ini yang diselenggarakan di Mexico, 3 sampai 8 Agustus 1976.
1 Kertas kerja tersebut diajukan dalam “Seminar Regional ASEAN tentang Aspek-aspek Sosial dan Kultur dari Pembangunan di Negara-Negara ASEAN” yang diselenggarakan di Bukittinggi, Desember 1974.
