Pengantar
Dokter adalah sarjana ilmu kedokteran dan sebagai cendekiawan dia dianggap mampu bekerja sebagai pencipta (creator), penyebar (distributor) dan penerap (applicator) kebudayaan. Ia dapat memilih menjadi peneliti dengan tujuan utamanya di bidang inovasi, dapat berpraktik di rumah sakit sebagai penerap ilmu kedokteran dan dapat pula memimpin pusat kesehatan masyarakat dan pekerjaan utamanya adalah penyebar kebudayaan – dalam hal ini ilmu kesehatan – kepada masyarakat.
Peranan dokter di negara industri dengan perbandingan dokter–pasien 1:1.000, sangat berbeda dengan peranan dokter di negara sedang berkembang dengan perbandingan dokter–pasien 1:100.000. Dalam hal yang terakhir ini ia harus membagi pelayanan kesehatan secara merata kepada masyarakat yang demikian banyak, tersebar dalam daerah rural yang demikian luas, dengan fasilitas sangat sederhana, terhadap masyarakat yang sedang lapor, kekurangan gizi atau kedua-duanya. Tugas yang seharusnya dijalankan oleh 100 orang dokter praktek (practicing physicians) tidak mungkin dijalankannya seorang diri. Maka dengan tenaga yang sangat kurang ini, ia hanya dapat menjalankan tugas sebaik-baiknya untuk kemaslahatan (benefit) masyarakat sebagai distributor ilmu kesehatan dengan cara mendidik masyarakat dalam pencegahan penyakit dan mengadakan kekebalan terhadap penyakit di samping mengadakan pengobatan.
Dalam tugasnya sebagai pendidik ilmu kesehatan mutakhir kepada masyarakat yang demikian luas ini, dokter bersama stafnya mengadakan perbenturan (encounter) antara ilmu kesehatan di satu fihak dengan adat istiadat setempat di lain fihak. Dengan mendidik ilmu kesehatan seorang dokter mengharapkan terjadinya perobahan dalam sikap (attitude), kemudian akan menyusul perobahan dalam tabiat (behaviour), kemudian perobahan kebiasaan (habit) dan akhirnya perobahan dalam adat istiadat (custom).
Pendidikan kesehatan khususnya dan pemeliharaan kesehatan umumnya tidaklah semata-mata ditujukan guna mengurangi jumlah penderita dan dengan demikian memungkinkan tugas dokter untuk mengobati (aplikator), tetapi juga untuk mengurangi biaya pengobatan masyarakat miskin di negara-negara sedang berkembang. Pada umumnya masyarakat demikian miskin sehingga ia tidak mampu membayar biaya pengobatan dan dengan demikian menyulitkan penetapan ilmu kesehatan modern.