Pendahuluan
Dalam menutup tulisannya, Sajogyo1 menyatakan: “Visi dan semangat kita nyata pada kaum muda dan tua selama tahun-tahun pertama revolusi dalam menghadapi penjajah yang ingin bercokol kembali. Musuh kita kini adalah kemiskinan pada segolongan dan ketakacuhan pada golongan lain yang lebih sulit diatasi.”
Warning tersebut sangat erat hubungannya dengan konstatasi beliau dalam tulisan yang sama, bahwa gambaran mengenai garis batas antara dunia ekonomi Barat dan desa tradisional seperti dilukiskan Boeke2 sebagai terletak antara “kota” (atau “perkebunan besar”) dan “desa”, kini telah bergeser ke tengah-tengah desa itu sendiri. Hal ini terwujud dengan adanya petani lapisan atas yang mencakup unsur “kota” dan lapisan petani gurem yang paling lemah dalam hal modal kerja. Yang terakhir ini sering tak terjangkau oleh pelayanan pemerintah (antara lain) dan sebaliknya mereka kurang mampu menjangkau pelayanan tersebut.
1 Sajogyo, “Lapisan Masyarakat Yang Paling Lemah di Pedesaan Jawa”, Prisma, no. 3, April 1978 hal. 3-14.
2 J. H. Boeke, Economie van Indonesie, (Haarlem: Willinck, 1951), dikutip dari Sajogyo, op. cit.