Prisma

Peranan Negara-negara Menengah dan Kecil

Dalam Situasi Baru Di Asia Pasifik*

Saya sadar akan kekurangan-kekurangan serta kesulitan-kesulitan kita menyusun suatu sistim penggolongan negara-negara “besar”, “menengah” ataupun “kecil”. Kecuali untuk dua negara-raksasa (Amerika Serikat dan Uni Soviet), kelirulah kalau kita terlalu bersandar pada ukuran-ukuran kwantitatif seperti jumlah penduduk, GNP, taraf perkembangan industrialisasi dan besar-kecilnya angkatan perang, untuk mengukur bobot kekuatan negara-negara didunia pada umumnya. Beberapa faktor yang tidak kentara seperti persepsi suatu negara tentang masalah-masalah pertahanan-keamanannya, seberapa jauh suatu negara merasa bergantung dari kekuatan asing, keamanan politik bangsa yang bersangkutan serta makna yang bisa diperoleh dari sejarahnya, terbukti telah menjadi ukuran-ukuran yang turut menentukan pula. Faktor-faktor situasionil dapat pula meningkatkan pengaruh negara-negara kecil, jauh lebih besar dari pada yang biasa diharapkan dari mereka andaikata digunakan ukuran-ukuran bagi suatu negara saja. Yugoslavia adalah salah satu dari sekian banyak negara yang dapat memanfaatkan dinamika situasi bi-polar dan kemudian menjadi negara yang turut mempengaruhi bentuk kehidupan politik internasional. Banyak lagi contoh tentang negara-negara lain yang berhasil memanfaatkan ketergantungannya masing-masing pada suatu negara besar tertentu; dalam hal seperti itu orang boleh juga menyebutkannya sebagai tirani si lemah atas si kuat, ataupun “seni bagaimana ekor dapat menggerakkan tubuh sang anjing”. Baik Vietnam Utara maupun Vietnam Selatan telah menunjukkan posisi-tukar (posisi tawar-menawar) mereka yang kuat terhadap negara-besar pendukungnya, meskipun orang dapat pula menilai keadaan kedua negara itu sebagai korban konfrontasi negara-negara besar.


* Karangan ini adalah ringkasan dan terjemahan bebas yang dilakukan oleh Juwono Sudarsono dari naskah asli berbahasa Inggris, The Role of the Medium and Small Powers in the New Pacific Setting, yang disampaikan oleh Soedjatmoko di depan Summer School of the Australian Institute of Political Science (Canberra, Australia), tanggal 28 Januari 1973. Pandangan-pandangan yang diberikan dalam ceramah ini tidak mencerminkan kebijaksanaan pemerintah Indonesia.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan