Membicarakan politik maka dengan sendirinya harus dihubungkan dengan masyarakat atau massa. Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah petani yang hidup di desa. Massa petani ini sebagian besar miskin dan lemah dalam kedudukan politiknya.
Tradisi sejarah kita sejak berabad-abad mencoba mengisolir petani dari politik kecuali politik negara. Mereka adalah massa yang diperintah dan tidak ikut serta menentukan nasib sendiri. Bahasa Indonesia agak kaya dengan istilah-istilah yang menstereotipkan sebagian besar daripada penduduk. Istilah-istilah seperti dusunan, kampungan, ndesa (berlaku seperti orang desa) semuanya bernada negatif. Sebaliknya juga ada golongan-golongan elite dan orang kota yang mengidealis desa dan mengatakan desa itu murni dan kalau ada politik di desa itu hanya karena orang luar. Kedua sikap tersebut tidak menolong orang desa dan sebenarnya ikut serta mengisolirnya dari pemikiran kota.
Namun celakanya pemikiran-pemikiran mengenai politik petani seperti di atas, tidak saja dimiliki oleh elite tradisional kita akan tetapi juga oleh sebagian besar sarjana moderen baik dari Barat maupun Timur. Para sarjana, termasuk orang-orang kota, dan tradisi kesarjanaannya adalah dari Barat. Apa yang kita lihat mengenai perkembangan di Barat? Pemberontakan pemberontakan petani di Barat dapat ditindas dan perkembangan dari negara serta masyarakat adalah dari unsur-unsur yang tinggal di kota. Di kota ini terdapat para pedagang, para industrialis, atau kelompok-kelompok lain yang merupakan golongan III (bukan bangsawan dan bukan gerejawan). Dari golongan ini atau dari kota diadakan pelayaran ke seluruh dunia dan peningkatan perdagangan serta ekonomi secara keseluruhan. Dari kota datang revolusi demokratis ataupun proletariat. Petani di desa diremehkan baik oleh kaum demokrat maupun progresif sampai Karl Marx pun merendahkan peranan petani sebagai pelopor revolusi atau pembaharuan.
Singkatnya secara tradisional baik para sarjana apakah mereka itu ahli ekonomi, sejarawan, ahli politik atau ahli-ahli ilmu sosial lain, maupun aparat birokrasi dan pemerintah kurang memikirkan persoalan-persoalan di sekitar masyarakat petani atau perkembangan-perkembangan di sekitar kaum tani ini. Pihak negara biasanya berpikir bahwa petani berpolitik “nrimo” jadi apa gunanya membagi kekuasaan dengan mereka sedangkan para moderen biasanya mengatakan bahwa petani konservatif dan bersikap negatif terhadap modernisasi.1
Namun akhir-akhir ini para sarjana ilmu sosial dikejutkan oleh pemberontakan-pemberontakan tani di abad ke-20. Di Amerika Latin meletus revolusi Meksiko (permulaan abad ke-20), Kuba, dan sekarang revolusi kaum Sandinista di Nikaragua. Di Asia ada revolusi Cina, Vietnam, Kampuchea dan lain-lain. Semuanya adalah masyarakat petani dan revolusi dilakukan oleh petani. Para petani sekarang dilihat bermain di atas panggung sejarah dan bukan sebagai obyek-obyek pasif belaka. Para sejarawan Barat sendiri mulai memberikan perhatian pada peranan petaninya sebab, jangan lupa, sampai akhir abad ke-18 masyarakat Barat juga masyarakat petani yang senasib dengan petani-petani Jawa misalnya. Kecuali sejarah revolusi-revolusi di negara-negara bukan-Barat dari zaman ini, ada satu faktor lagi yang mendorong adanya penelitian di sekitar peranan petani dalam sejarah, yaitu sejarah pendudukan Jerman selama Perang Dunia II di benua Eropa yang menimbulkan perlawanan rakyat dari negara-negara yang didudukinya.2
1 Shanin, ed., Peasants and Peasant Societies, Penguin Modern Sociology Reading, 1975, hal. 229 dan seterusnya. Beberapa karya mengenai petani dalam politik dan pemberontakan adalah: kecuali buku T. Shanin di atas: J. C. Scott, The Moral Economy of the Peasant, Yale University Press, 1976; E. R. Wolf, Peasant Wars of the Twentieth Century, Faber and Faber, 3 Queen Square, London 1969; B. Moore, Social Origins of Dictatorship and Democracy, Beacon Press, Boston, 1970. Di Indonesia yang memelopori studi mengenai soal ini adalah: Profesor Dr. Santono Kartodirdjo dengan karyanya: The Peasants’ Revolt of Banten in 1888 (The Hague: Martinus Nijhoff, 1966); Protests Movements in Rural Java, Oxford University Press, 1973.
2 Barrington Moore, Asal-usul Sosial . . . menganalisa perkembangan masyarakat petani industri.