Prisma

Perang dan Damai

Sejarah umat manusia adalah sejarah perang, sedangkan damai tidak lebih dari jangka waktu antara dua perang. Teknologi yang merombak susunan kekuasaan dalam masyarakat adalah teknologi perang. Perang selalu dianggap identik dengan kekerasan. Namun di pihak lain perang bukan saja berarti beradu kekerasan. Perang lebih jauh berarti mempertahankan hak hidup, mempertahankan eksistensi manusiawi. Karena itu ada sesuatu yang suci di sana yaitu hak untuk membela hidup yang terjelma dalam hak membela diri.

Namun teknologi membela diri, teknologi perang, secara hakiki merombak kesucian hak ini menjadi sesuatu yang lain, bahkan absurd, karena kemampuannya menghancurkan semua yang hidup. Penghancuran ini membawa kenikmatan. Di sini muncul suatu gejala baru lagi yaitu perang menjadi nafsu. Dan sialnya teknologi perang tidak habis-habisnya memuaskan nafsu ini. Kekuatan teknologi perang tidak saja terletak dalam kemampuan memuaskan nafsu ini tetapi terutama dalam memberikan iming-iming dalam memahat bayangan tentang terkilinya nafsu yang lebih besar, dan pemuasan yang bahkan lebih nikmat karena adanya daya penghancur yang lebih totaliter. Mungkin kita tidak punya kata yang lebih tepat lagi untuk melukiskan hal ini daripada Freud, yaitu bahwa nafsu yang berkuasa adalah necrophilia, nafsu membunuh yang melahirkan manusia dan sistem masyarakat yang necrophilic. Mereka tidak lagi mencintai hidup yang ingin dipertahankan, tetapi secara hakiki mencintai kematian, mencintai kehancuran, dan menyembah tenaga dan kekuatan penghancur.

Namun paradoks tidak pernah terhindarkan dalam tindakan manusia. Usaha menemukan kekuatan penghancur dibuat atas nama perdamaian. Namun damai di sini bukanlah a state of mind, suatu suasana batin, tetapi damai karena tidak adanya perang. Paradoks mencapai puncaknya ketika cinta damai sama dan sebangun dengan cinta perang. Semangat cinta-damai-cinta-perang ini terjelma utuh ketika ditunjang nafsu baru lagi yaitu nafsu mengimpor damai suatu sistem masyarakat tertentu kepada masyarakat lain. Pax Romana yang diimpor dari kekaisaran Roma tidak pernah berarti damai, tetapi penghancuran negara-negara lain di bawah telapak kaki kaisar Roma. Pax Neerlandica setelah perang Aceh tidak pernah berarti damai di Nusantara, tetapi penguasaan seluruh bumi Nusantara di bawah kekuasaan Belanda.

Karena itu Ivan Illich lantang-lantang menolak mengimpor damai. Mengimpor damai dalam segala bentuk tidak lain daripada mengimpor perang, termasuk damai pembangunan yang disebutnya sebagai Pax economica. Mengimpor damai pembangunan pun tidak lain dari mengimpor konflik dan penindasan. Penindasan pembangunan atas nama pax economica sama kejamnya dengan penindasan atas nama Pax Neerlandica. Karena itu, kata Ivan Illich, damai dan pembangunan tidak pernah bisa bersatu dalam satu ranjang, sehingga pembangunan harus ditetak dari damai. Dengan kata lain kalau ingin damai jangan mengimpor pembangunan.

Semangat cinta-damai-cinta-perang begitu terpateri di dalam pikiran manusia sepanjang masa sehingga orang Romawi kuno tidak segan-segan mempropagandakan prinsip: Si vis pacem, parra bellum!. Kalau anda ingin damai, siaplah perang, berlakulah seakan-akan ada perang. Dan menarik, nasihat kuno Romawi itu justeru sangat dipatuhi manusia moderen sekarang. Tiga puluh enam juta manusia pada saat ini bersiap siaga dengan tangan menggenggam senjata. Dua puluh lima juta manusia lainnya siap siaga menggantikan yang disebut pertama dan tiga puluh juta kaum sipil bekerja dalam setiap jabatan yang berhubungan dengan kekuatan militer. Dunia menghabiskan satu juta dollar Amerika per menit untuk keperluan militer pada saat ini dua kali seluruh penghasilan kotor yang mampu dihasilkan benua Afrika dan sama dengan penghasilan kotor nasional dari semua negara di benua Amerika Latin. Di mana damai? Damai adalah mimpi. Atau di pihak lain ada damai. Dan damai adalah kenyataan. Namun kenyataan damai ini adalah damai dalam kesiagaan untuk berperang dan damai karena tidak atau belum berperang. Damai karena adanya keseimbangan kekuatan penghancur, damai karena takut dihancurkan. Namun semua orang tahu, semua anak tahu, semua ibu tahu bahwa ketakutan bukan damai.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan