Prisma

Perang yang Sulit untuk Dimenangkan

BOLEHKAN saya mengawali penuturan dengan sebuah cerita. Ketika saya mengikuti kuliah pasca sarjana, ada kisah tentang ekonom. Di sebuah pulau kecil terdampar tiga orang yang selamat dari kapal yang tenggelam. Di pulau kecil itu berkumpullah seorang insinyur, seorang dokter dan seorang ekonom. Tidak ada apa-apa di pulau itu, kecuali puluhan kaleng minuman dan makanan. Si insinyur pusing mencari akal bagaimana membuka kaleng, sementara sang dokter hampir putus asa mengingat sadarnya dia akan daya tahan manusia. Kedua orang itu terkejut dan menoleh ke ekonom yang menyatakan dia menemui jalan keluar dari masalah mereka. Berkatalah si ekonom, “Kita asumsikan ada alat pembuka botol (assume a can opener).”

Memang cerita itu tak pernah terjadi, namun maksudnya jelas. Ekonom mengawali setiap pandangannya dengan kendala dan asumsi. Ceteris Paribus adalah asumsi klasik mengenai keharusan agar faktor-faktor lain tidak berubah. Sementara itu setiap ekonom mengakui bahwa dalam kenyataan faktor-faktor atau variabel lain pasti bergerak. Maka kendati ada analisa yang disebut keseimbangan statis, keseimbangan parsial dan keseimbangan dinamis, namun dapat dipastikan bahwa teori dan model tersebut tak akan pernah mampu menggambarkan realitas ekonomi yang demikian kompleks. Berbagai teknik ekonometri diturunkan dan disempurnakan. Metoda kuantitatif sudah begitu mutlak perlu dikuasai ekonom sehingga para ekonom tidak pelak lagi bergunjing akan “inferioritas” Ilmu-ilmu sosial lainnya yang kurang menggunakan model-model kuantitatif. Absahkah gunjingan ekonom? Jawabannya adalah ya dan tidak. Di satu pihak benar bahwa penggunaan metoda kuantitatif akan menolong upaya pengamatan dari gejala ekonomi dan sosial. Di pihak lain bahaya akan terperangkapnya para ekonom dengan model-ekonometri mereka, sangat nyata dan terbukti. Kaum ekonom yang kedua ini menurut Profesor Sumitro Djojohadikusumo adalah orang-orang yang menguasai semua teknik, namun pada saat yang sama mereka tak bisa mengidentifikasikan masalah-masalah (Bulletin of Indonesian Economic Studies, Desember 1986).

Dalam ilmu ekonomi sangat penting untuk mengukur tingkat tabungan dalam masyarakat. Tapi tingkat tabungan yang sama belum tentu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sama. Profesor Dwight Perkins, dalam ceramahnya di Center for Policy and Implementation Studies (CPIS) Jakarta baru-baru ini menjelaskan perbedaan tingkat pertumbuhan yang amat menyolok antara negara-negara di Asia Timur dengan Asia Selatan, pada hal tingkat tabungan domestik kedua kelompok negara tersebut lebih kurang sama. Di Indonesia sendiri untuk kurun waktu yang berbeda (1970-1980 dan 1981-1985) tingkat tabungan domestiknya tidak berbeda jauh. Tapi tingkat pertumbuhan 1981-1985 jauh lebih rendah dari kurun waktu yang sebelumnya. Maka berbicaralah para ekonom mengenai pentingnya produktivitas dari investasi. Maka menjadi jelas pula musykilnya upaya mengkuantifikasikan faktor produksi yang terpenting, berupa sumber daya manusia. Kembali berlaku penekanan Profesor Sumitro akan pentingnya mengidentifikasi masalah-masalah ekonomi.

Demikianlah dalam tiap pembicaraan kita mengenai ekonomi dan ekonom, asumsi yang begitu tak masuk akal seperti kisah ekonom di pulau tadi akan muncul dalam bentuk dan konteks yang berbeda-beda, terkadang ada yang terasa mustahak dan kadangkala ada pula yang mustahil. Sama dengan alat pembuka botol, maka faktor ekonomi dunia pun dijadikan asumsi yang terasa mustahak.

Faktor resesi dunia acapkali digemakan sebagai biang keladi kesulitan ekonomi kita. Seolah-olah tak ada daya dan usaha yang dapat dijalankan karena faktor eksteren itu tadi. Benar sekali kita tak akan mampu meningkatkan harga minyak bumi. Juga benar bahwa harga LNG yang mengikuti harga minyak bumi akan kembali memukul ekonomi kita. Bahkan juga benar bahwa apa yang dikatakan Peter F. Drucker tentang tidak berkaitnya (uncoupling) produksi komoditi primer dengan industri di negara Barat, akan memukul lebih telak lagi ekonomi kita.

Tapi yang sering dilupakan bahwa dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka mutlak diperlukan efisiensi. Efisiensi menuntut peniadaan distorsi yang sering bersumber dari berbagai peraturan dan ketentuan yang tumpang tindih. Distorsi juga bersumber dari niat para pelaku ekonomi yang giat menjadi pemburu rente (kegiatan mencari sewa). Kalaulah kesadaran akan distorsi dan niat para pemburu rente itu yang dihadapi, maka amat mungkin faktor resesi dunia berkurang fungsinya sebagai kambing hitam kesulitan ekonomi kita. Tapi memerangi distorsi dan para pemburu rente, tak lain dari memerangi diri sendiri. Memerangi diri sendiri, apakah dalam masalah ekonomi ataupun masalah agama, tak ayal lagi merupakan perang yang paling sulit untuk dimenangkan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan