Prisma

Perantauan Masyarakat Minang dan Kaitannya dengan Masalah Kewiraswastaan

Beberapa catatan

Dari semula sudah bisa diterka bahwa siapa-pun akan cenderung untuk mengambil kesimpulan bahwa orang Minang suka merantau, dan karenanya memiliki sifat-sifat kewiraswastaan yang menonjol jika dibandingkan dengan suku-suku lainnya di Indonesia. Orang malah sering mengumpamakan mereka sebagai yahudinya Indonesia, atau lebih populer lagi sebagai “Minang Kiau”, karena semangat dagangnya yang mengingatkan orang pada Cina Perantauan dan karena kehadirannya di mana-mana. Kesimpulan ini walaupun ada benarnya, tetapi memerlukan beberapa catatan yang mungkin akhirnya akan mempertanyakan sampai di mana kebenaran dari kesimpulan itu sendiri.

Dari segi jumlah saja, misalnya, jelas bahwa orang Jawa jauh lebih banyak ditemukan di luar Jawa daripada orang Minang di luar Sumatera Barat. Malah orang Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar nun di balik dunia sana, di Suriname, Curacao, juga di New Caledonia, Malaysia dan Singapura. Orang Jawa dari segi jumlah adalah yang terbesar yang ditemukan di luar daerah budayanya (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Memang benar, karena besarnya jumlah keseluruhan orang Jawa itu sendiri, persentase migrasinya jadinya kecil jika dibandingkan dengan suku-suku lainnya yang persentase-migrasinya tinggi tapi jumlahnya kecil.

Dari segi persentase itu sendiri, sensus 1930, yang secara terperinci memperhitungkan penyebaran penduduk menurut latarbelakang etnisnya, membuktikan bahwa bukanlah orang Minang yang memiliki tingkat migrasi tertinggi di Indonesia ini, tapi adalah orang . . . Bawean! Terbukti bahwa lebih dari sepertiga (tepatnya: 35,9%) orang Bawean yang berasal dari sebuah pulau kecil di utara Surabaya pergi merantau dengan kemauan sendiri terutama ke Singapura dan Johor. Sebagian besar dari mereka ditemukan di sana sebagai supir dan pemelihara kuda pacu di samping juga pembantu rumahtangga, tukang kebun, dan sebagainya.1 Malah yang menarik dengan suku “Boyan” ini-begitu mereka dipanggil di sana-mereka membawa sistem commune mereka dengan tinggal berkelompok dalam dan sekitar “pondok” mereka.2

Nomor 2 adalah halak hita. Jadi orang Batak pun masih di tahun 1930 sudah ditemukan banyak di luar daerah budaya mereka, terutama di Sumatera Timur di daerah-daerah perkebunan dan di daerah pedesaan Pasaman, Sumatera Barat. Persentase migrasi mereka: 14,3%. Kemudian nomor 3 adalah suku Banjar, dengan 14,2%. Orang Banjar banyak ditemukan di pantai timur Sumatera, terutama di daerah Riau dan Jambi, dan di pantai barat Semenanjung, terutama di Johor dan Selangor.


1 Abdullah, T. “Adat dan Islam: Pemeriksaan Konflik di Minangkabau,” Indonesia, 2, Oktober 1966, hlm. 1-24.

2 J. Vredenbregt, De Baweanners in hun Moederland en in Singapore, University of Leiden Ph. D. Dissertation, 1968, 1968, publ.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan