Meredanya Perang Dingin tidak serta merta mengakibatkan persekutuan perekonomian lenyap. Memasuki dasawarsa 90-an blok-blok perdagangan antarkawasan dan regional tampil semakin kuat. Persoalannya, bagaimana memajukan kepentingan ekonomi negeri di dalam kawasan sambil tetap menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternal. Menurut Mari Pangestu, Asia Timur sebagai sebuah kawasan yang berada dalam posisi semacam itu ternyata mampu memadukan perbaikan dengan penyesuaian ekonomi sehingga “kebangkitan” perekonomiannya secara keseluruhan pantas diperhitungkan.
Pendahuluan
Lima tahun belakangan ini berlangsung peningkatan hubungan ekonomi antarperekonomian negeri-negeri Asia Timur.1 Perekonomian Asia Timur rata-rata mengalami pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan wilayah lain di dunia. Beragam faktor membawa pertumbuhan perdagangan antar negeri-negeri Asia Timur termasuk investasi dan transaksi ekonomi lainnya. Umumnya faktor-faktor yang mendorong pasar tidak berkaitan dengan setiap kerjasama ekonomi regional yang formal di antara negeri-negeri Asia Timur. Faktor-faktor tersebut biasanya berkisar dari proses restrukturisasi dan perbaikan ekonomi sampai strategi globalisasi pelaku-pelaku ekonomi yang melaksanakan kegiatan ekonomi.
Beberapa makalah telah ditulis dengan subyek peningkatan hubungan dan tulisan ini merupakan ringkasan beberapa kecenderungan yang menonjol serta menjelaskan faktor-faktor di balik kecenderungan tersebut. Di samping itu, tulisan ini bertujuan memperkirakan prospek kelanjutan pertumbuhan dan kemungkinan mempertahankan peningkatan hubungan antarkawasan di Asia Timur sehubungan dengan perubahan lingkungan eksternal.
Bangkitnya Kawasan Ekonomi Asia Timur
Sebagai sebuah kawasan ekonomi, Asia Timur telah menyita begitu banyak perhatian karena pertumbuhannya yang dinamis dan peningkatan hubungan yang terjadi tanpa perlu melalui perjanjian kawasan yang formal. Bagian ini bertujuan menjelaskan beberapa kecenderungan menonjol sebagai petunjuk bangkitnya perekonomian kawasan Asia Timur.
Indikator Ekonomi Utama
Tabel 1 menunjukkan suatu gambaran kawasan Asia Timur yang diperbandingkan dengan kawasan lain dan dunia. Asia Timur merupakan kawasan yang terpesat pertumbuhannya di dunia dan sumbangannya terhadap GNP dunia meningkat dari 9% menjadi 17% selama kurun waktu 1965-90. Tabel 1 memperlihatkan juga sepertiga penduduk dunia, negeri terbesar dan keempat terbesar di dunia dalam jumlah penduduk, merupakan bagian Asia Timur.
Banyak cerita di balik dinamika kawasan ini telah dianalisa berbagai kajian dan faktor utama yang mendasari keberhasilan itu ditandai oleh kebijakan-kebijakan yang dipakai dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternal yang berubah.
Jepang dan Negeri Industri Baru (NIB) Asia Timur dipakai sebagai model karena keberhasilan strategi orientasi ekspor mereka. Pada tahap awal semua kegiatan perekonomian mereka dimulai dengan mendorong ekspor dan menggabungkan subsidi ekspor dengan kebijakan promosi. Pertumbuhan mereka dibantu pula oleh dinamika pertumbuhan ekonomi dunia pertengahan 1960-an dan 1970-an. Selain kebijakan berorientasi ekspor tentunya terdapat faktor tambahan atau alternatif lain di balik kisah sukses Asia Timur, mulai dari ajaran Konghucu sampai peran pro-aktif pemerintah (kebijakan industri). Pada pertengahan 1980-an, Jepang kemudian diikuti NIB Asia Timur, mulai memakai strategi restrukturisasi karena meningkatnya biaya dan apresiasi mata uang mereka.
Sementara itu perekonomian Cina dan ASEAN-4 berhasil melakukan perbaikan pada tahun 1980-an. Perbaikan yang dilakukan perekonomian Cina merupakan bagian dari proses membuka diri negeri tersebut sedangkan bagi ASEAN-4 sebagian besar perbaikan perekonomian dilakukan sebagai tanggapan terhadap lingkungan eksternal yang merugikan mereka.
Guncangan eksternal 1980-an –turunnya harga komoditi primer, khususnya harga minyak, apresiasi mata uang yen dan resesi ekonomi dunia– tampak sekali melandasi kerentanan sumber daya perekonomian ASEAN. Sebagai akibatnya sebagian besar negeri ASEAN-4 mengambil berbagai langkah perbaikan ekonomi dengan mendorong diversifikasi ekspor komoditi primer ke barang-barang manufaktur, meningkatkan efisiensi dengan memasukkan kekuatan-kekuatan bersaing serta lebih membuka perekonomian mereka. Stabilisasi makroekonomi, kebijakan-kebijakan struktural untuk mengurangi distorsi dan misalokasi sumber daya, serta kebijakan meningkatkan tabungan dan investasi dijalankan oleh sebagian besar negeri ASEAN-4. Filipina dalam menyesuaikan kebijakan yang diperlukan memang mengambil langkah tertentu, namun karena persoalan politik yang dihadapi upaya yang dilakukan berjalan lamban ketimbang negeri ASEAN lainnya.
* Tulisan ini diterjemahkan oleh Anang Bambang Rachmadi, dari makalah penulis “The East Asian Economics: Forging Regional Link,” yang disampaikan pada “Economic Integration and Cooperation in East Asia,” The Asian Forum Malaysia Conference, Kuala Lumpur, 17-19 Februari 1993.
1 Asia Timur yang dimaksud makalah ini adalah Jepang, Taiwan, Korea, Hongkong, RRC dan Asia Tenggara (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Muangthai).