Salah satu dari sekian banyak mitos tentang Arab Saudi adalah bahwa kerajaan gurun pasir tersebut bisa terus hidup karena nasib baik belaka. Ide perencanaan dan bayangan tentang suatu Arab Saudi yang masih feodal, betapa pun juga, sulit dipersatukan; apalagi dengan tersedianya uang minyak yang jumlahnya hampir-hampir tak terbatas bagi pengeluaran atau penanaman modal oleh pemerintah. Akan tetapi, setelah suatu permulaan tanpa koordinasi dari rencana 5 tahunnya yang pertama (1970–1975) serta pengeluaran biaya yang amat besar pada tahap-tahap awal rencana kedua (1975–1980), negara tersebut kini tengah memantapkan diri dengan suatu pendekatan terhadap pembangunan ekonomi yang lebih masuk akal dan terarah. Hingga akhir-akhir ini, hanya birokrasi yang kehabisan tenaga serta kurangnya tenaga ahli dan tenaga kasarlah yang masih menahan pengeluaran uang. Sekarang ada semacam pembatasan baru: suatu kesadaran akan perlunya suatu disiplin keuangan.
Resep buat hari depan
Ketika ia mengumumkan penyederhanaan sasaran-sasaran perencanaan pada akhir tahun 1976, Menteri Perencanaan Hisham Nazer menandaskan bahwa “kita tidak meninggalkan tujuan semula untuk membangun suatu landasan perekonomian yang bebas.” Ia dan beberapa menteri Saudi lainnya yang telah turut serta merumuskan dua rencana pembangunan tersebut, masih tetap berpedoman pada tujuan semula tadi dalam meletakkan dasar-dasar rencana pembangunan ketiga (1980–1985). Sudah tentu ini merupakan tujuan dari hampir semua negara yang sedang berkembang. Akan tetapi Arab Saudi telah menyesuaikan haridepan pada kondisi-kondisi yang amat khusus. Tenagakerja, misalnya saja, sedemikian langkanya sehingga dua juta dari kira-kira tujuh juta penduduk Arab Saudi adalah orang-orang asing beserta keluarga-keluarga mereka. Kehidupan di gurun pasir sedemikian kerasnya hingga suatu wilayah yang kira-kira sama luasnya dengan Texas didiami oleh kurang lebih 250 orang Badui suku Al-Rashid. Meskipun bergantung pada tenagakerja warga negara asing, pemerintah Saudi tetap ingin menghindari gejala “kebanjiran” buruh dari Dunia Ketiga, yang di mata mereka, akan menimbulkan risiko keamanan, merusak nilai-nilai budaya Badui, dan menciptakan beban berat pada pelayanan masyarakat yang tinggi ongkosnya. Sesuai dengan keadaan tersebut, Raja Khalid dan menteri-menterinya telah memilih suatu resep pertumbuhan ekonomi yang terarah secara tajam. Mereka telah memutuskan untuk menanam modal dalam jumlah yang besar dan tenagakerja dalam jumlah kecil dalam beberapa industri pilihan. Sebaliknya Syah Iran mencoba merubah negerinya menjadi negara moderen dengan contoh model Eropa, dengan serangkaian industri baik yang berat maupun yang memprodusir barang-barang konsumen. Rencana pembangunan Arab Saudi yang kedua telah meninggalkan strategi diversifikasi gencar yang tidak realitis dan yang pernah menjadi pedoman rencana yang pertama. Yang merupakan tujuan adalah pemanfaatan dari kelebihan-kelebihan alamiah negeri tersebut. Persediaan modal dalam jumlah yang amat besar, persediaan energi yang berlimpah-limpah, serta ongkos yang kecil bagi perlindungan lingkungan membuat Saudi memusatkan perhatiannya pada dua proses industri yang berat. Pertama, adalah logam dasar, seperti peleburan biji besi dalam negeri dan aluminium luar negeri. Yang kedua adalah petro-kimia.
* Tulisan ini merupakan terjemahan dari Robert D. Craine, “Planning, Islamic Style” dalam Fortune, 31 Juli 1978.