Fasilitas kota yang kurang memadai serta menghebatnya spekulasi tanah di kawasan Jabotabek belakangan ini disebabkan kurang matangnya perencanaan pengembangan kota. Pertumbuhan yang tidak seimbang antara jumlah modal yang ditanam di bidang real estate dibandingkan dengan kinerja perekonomian Indonesia sepuluh tahun terakhir semakin memperparah rencana pengembangan kota. Hal ini memunculkan persoalan ketidakseimbangan standar kehidupan antara penduduk kota besar (terutama Jakarta dan sekitarnya) dengan penduduk desa. Apakah ini bukan merupakan ancaman?
“Ibukota Lebih Kejam Dari Ibu Tiri”1
Jika jumlah penduduk Indonesia tahun 1992 mencapai 183 juta jiwa dan peningkatan rata-ratanya 2,25% per tahun, maka penduduk kota bertambah dua kali lebih cepat, 4,3 persen setiap tahun. Jumlah penduduk yang sekarang tinggal di kota mencapai 53 juta jiwa, pada tahun 2000 akan mencapai 76 juta jiwa. Jadi, setiap tahun penduduk kota bertambah sekitar 2,5 juta jiwa. Menurut Bank Dunia,2 10 persen tanah garapan di Jawa akan beralih fungsi menjadi kawasan industri atau pemukiman selama 20 tahun mendatang. Urbanisasi luar biasa ini terutama sekali dialami kota-kota besar, sementara kota-kota kecil (berpenduduk kurang dari 100.000 jiwa) hampir tidak sanggup menyediakan pekerjaan dan penghasilan yang diinginkan para pendatang dari desa.
Menghadapi keadaan demikian, kebijakan perencanaan kota terlihat masih berjalan sangat lamban, ditandai oleh kebijakan “tidak campur tangan,” yang secara tak langsung menguntungkan pihak swasta. Kebijakan yang diambil jelas harus memperhatikan dua hal yang tertuju pada golongan masyarakat berpenghasilan rendah namun bukan yang paling miskin.
Dalam tulisan ini akan ditinjau berbagai ketentuan dan keterbatasan kebijakan yang diterapkan di Jakarta, di mana sejak 1967 telah dibuat rencana induk perencanaan kota. Pada tahap berikutnya akan dilihat sejauh mana kelemahan dan kekurangan kebijakan yang diberlakukan justru memberi kesempatan developer swasta untuk melakukan spekulasi tanah.
1 Cuplikan lelucon grup lawak Ateng, Iskak, Suroto yang ditayangkan TVRI tahun 1990.
2 World Bank, Indonesia, Poverty assesment and strategy report, No. 8034-IND (11.05.1990); Foundations for Sustained Growth, report No. 8455-IND (04.05.1990).