Prisma

Pergerakan Rakyat Mencari Jawab

Sejarah melahirkan perubahan, kemenangan dan kekalahan. Dan manusia terperangkap di dalamnya, sekalipun secara subyektif dan tanpa rasa putus asa selalu berusaha mengubah dan menentang warisan sejarah. Peminat filsafat sejarah pun berkata, manusia bertindak sebagai pasien sejarah dan pada momen yang sama sebagai pencipta sejarah. Dalam kurun waktu lima abad terakhir, manusia telah diberi harapan, kekecewaan serta kebingungan dan bahkan ditentukan nasibnya oleh laju dan melesatnya proses transnasionalisasi perekonomian, tumbuh dan kukuhnya negara moderen yang bertindak sebagai tulang punggung politik dunia dan muncul serta bergemuruhnya pergerakan-pergerakan rakyat di hampir seluruh kawasan dunia.

Perekonomian feodal yang mandiri dan berorientasi ke dalam telah ditebas habis oleh kapitalisme yang menolak asas kemandirian dan memenangkan cara-cara produksi baru yang mementingkan pemupukan modal, melalui penggunaan buruh bebas, produksi barang untuk pasar, perdagangan dan teknologi. Mungkin tak seorang pun mampu melawan pengaruhnya. Kesatuan-kesatuan politik feodal telah digantikan dengan negara moderen. Namun satu hal kiranya pasti: sistem perekonomian ini telah gagal menciptakan dunia yang penuh persamaan, dan damai. Manusia pun gelisah. Muncullah pergerakan-pergerakan rakyat.

Dan khususnya di bagian pinggiran dari sistem perekonomian yang sifatnya menyeluruh di mana sifat menekan dan mengusir dari sistem ini lebih keras terasa pergerakan rakyat lebih menggemuruh, dan di beberapa tempat malah telah menimbulkan revolusi. Duduk soalnya mungkin terletak pada kenyataan bahwa sistem perekonomian di satu pihak telah melahirkan kelompok-kelompok sosial yang dihasilkan oleh ekspansinya sendiri — buruh, kaum tani yang semakin ciut tanahnya, kaum terpelajar, golongan profesional serta golongan pedagang dan industri. Namun, di pihak lain sistem ini telah mampu mempertegas, apalagi memperkuat, sosok kehadiran kelompok-kelompok ini. Maka timbullah ketegangan terus-menerus antara sistem perekonomian dan susunan kelompok sosial yang telah dihasilkannya sendiri. Inilah mungkin logika yang bisa menjawab mengapa pergerakan rakyat lebih luas dan lebih langgeng di Dunia Ketiga, daripada misalnya di negara-negara industri.

Indonesia juga tak terbebas dari arus dan kekuatan sejarah yang melanda dunia, bahkan sampai hari ini. Ketika sistem perekonomian Barat dalam bentuknya yang masih sederhana mulai menggasak Jawa, timbullah berbagai pergerakan yang dipimpin kaum raja dan ningrat. Dan ketika akhirnya mereka tertaklukkan, kaum petani yang telah sekian abad menjadi penganutnya harus berhadapan sendirian dengan kekuatan ekonomi Barat. Abad XIX untuk Jawa dan pulau-pulau nya pun diwarnai oleh pergerakan rakyat, yang kemudian oleh para ahli sekitarnya disebut sebagai pergerakan mesianisme, mileniarisme dan pergerakan-pergerakan lain yang sejenis. Ketika sistem perekonomian yang secara cepat telah mengintegrasikan perekonomian Indonesia ke dalam sistem perekonomian dunia semakin kukuh berdiri, ia pun melahirkan kelompok-kelompok sosial barunya sendiri: golongan terpelajar, bisnis, profesional dan tentunya golongan buruh dan tani yang terdesak. Dan pergerakan rakyat pun maupun menampilkan wajahnya yang moderen, baik dari segi ideologi, organisasi strategi dan taktik politik. Bahkan pergerakan kebangsaan yang akhirnya membawa negeri ini ke pintu gerbang kemerdekaan, juga bermula dari logika yang demikian.

Jika kemudian disadari bahwa sistem perekonomian transnasional yang telah mengubah dunia dan menerkam Indonesia dalam pelukannya sampai hari ini belum menunjukkan tanda-tanda perubahan yang fundamental, dan jika disadari pula bahwa perekonomian Indonesia belum mampu mengubah kedudukannya sebagai sistem perekonomian pinggiran, maka pergerakan rakyat masih terus akan bersama-sama kita dalam waktu yang cukup lama. Ia pada intinya merupakan kekuatan yang berusaha menegakkan keadilan, kesamaan dan perdamaian, atau kekuatan-kekuatan subyektif yang mencoba berdialog dengan nasib sejarah yang terbebankan kepadanya. Namun kiranya sebuah pertanyaan besar yang masih menunggu jawaban: sampai sejauh manakah pergerakan rakyat ini mentransendensikan diri dari kedudukannya sebagai kekuatan reaktif dan responsif, menjadi kekuatan yang mampu memberi jawab pada masalah kemanusiaan dewasa ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan