Prisma

Pergumulan Agama dengan Masalah Pembangunan

Perluasan cakrawala

Di mana-mana, di seluruh dunia berbagai negara yang biasanya disebut “sedang berkembang” menyatakan diri sibuk menjalankan pembangunan. Tetapi apa itu yang disebut “pembangunan”, jawabannya dapat bermacam-macam. Tambah-tambah lagi karena tidak hanya para ekonom yang menyibukkan diri dengan tanya-jawab mengenai masalah pembangunan, melainkan juga para ahli dari cabang-cabang ilmu pengetahuan lain, termasuk para filosof dan teolog. Dengan masuknya macam-macam unsur dalam pengertian pembangunan, terjadilah suatu metamorfosis mengenai pengertian ini, sehingga pembangunan tidak lagi hanya dilihat sebagai pembangunan ekonomi dan materiil, melainkan dilihat dalam cakrawala yang lebih luas, ya, bahkan sampai pada cakrawala humanisasi pada umumnya. Sebagai salah satu contoh hal ini, dapat kita ketemukan dalam Surat Edaran Paus Paulus VI “Populorum Progressio” atau “Perkembangan Bangsa-Bangsa” (1967) yang menyatakan bahwa perkembangan (atau pembangunan) tidak terbatas pada pertumbuhan ekonomi saja. Perkembangan sejati harus menyeluruh, artinya: harus memajukan manusia seutuhnya dan seluruh umat manusia. Juga tidak disetujui kalau bidang ekonomi dipisahkan dari hidup manusiawi atau kalau perkembangan diceraikan dari kebudayaan yang merupakan tempat pertumbuhan perkembangan itu. Yang terpenting ialah manusia, yaitu setiap orang, setiap kelompok dan bahkan seluruh umat manusia.1 Juga jika kita membandingkan REPELITA I dengan REPELITA II, meskipun masing-masing mulai dengan berbicara dalam cakrawala yang lebih luas, namun terasa bahwa dalam hal ini REPELITA II merumuskannya secara jauh lebih eksplisit. Diungkapkan bahwa tujuan pembangunan nasional adalah “mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila di dalam wadah negara Republik Indonesia, yang merdeka, berdaulat dan bersatu dalam suasana peri kehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai”.2


1 Paus Paulus VI, Populorum progressio, No. 14.

2 Departemen Penerangan RI, Rencana Pembangunan Lima Tahun Kedua, Buku I, hal. 17.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan