Harapan masyarakat terhadap perguruan tinggi begitu besar. Ribuan lulusan SLTA setiap tahun berbondong-bondong memasuki perguruan tinggi dan berharap bahwa pendidikan tinggi yang akan mereka peroleh dapat menjanjikan masa depan yang cerah. Dalam kenyataannya, perguruan tinggi kita tidak selalu memenuhi harapan tersebut, ada persoalan biaya, kurikulum, dan tenaga pengajar.
SEORANG kawan pembantu redaktur pelaksana sebuah koran daerah berkeluh kesah mengenai mutu calon wartawan yang akan diterimanya. Dari sekitar 4.000 pelamar yang semuanya sarjana, ternyata yang dinyatakan “memenuhi syarat” tidak lebih dari 50 orang saja. Lalu bagaimana dengan sisa pelamar lainnya? Kita serahkan saja nasibnya pada Yang Maha Kuasa. Lho? Habis mau diapakan?
Padahal, kisah kawan ini, kriteria untuk “memenuhi syarat” itu sebenarnya baru didasarkan pada kemampuan berlogika. Artinya, baru dilihat dari kemampuannya menangkap masalah dan menguraikannya secara runtut, dengan jalan pikiran yang masuk akal. Biasanya, para lulusan yang seluruhnya sarjana itu, sudah ambruk ketika dihadapkan dengan tes atau ujian yang mencoba mengungkap kemampuannya menangkap masalah. Sudah sedemikian burukkah, pendidikan tinggi kita?