Kasus di Lekkong, Enrekang, 1971-1992
Gencarnya mobilisasi politik Golongan Karya yang bersifat perusasif-kekeluargaan dan koersif-intimidasi telah mempercepat perubahan perilaku memilih. Sekali pun sebelumnya masyarakat telah tersosialisasi dengan ide perjuangan politik Islam, daya tahan umat terhadap tantangan hidup makin kurang dan keinginan untuk berkembang juga meningkat. Semuanya terakumulasi mendorong perubahan perilaku memilih umat dari PPP ke Golkar. Tulisan M. Ridhah Taqwa ini menyoroti polarisasi dan perubahan perilaku memilih pada Pemilihan Umum sejak 1971-1992 dengan studi kasus di sebuah kecamatan di Sulawesi Selatan.
Selama Orde Baru berkuasa pemerintah telah melaksanakan Pemilihan Umum sebanyak 5 kali (1971, 1977, 1982, 1987, dan 1992). Pada Pemilu yang berlangsung secara berkala tersebut masing-masing organisasi politik peserta Pemilu memperoleh dukungan pemilih yang bervariasi, terutama pada Pemilu 1971 yang diikuti oleh 10 kontestan. Dukungan yang bervariasi itu tidak hanya karena Pemilu itu diikuti banyak partai, tetapi juga karena masing-masing organisasi politik mempunyai basis yang bermacam-macam. Masyarakat Indonesia yang majemuk dari segi sosial, budaya,, ekonomi dan agama, menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang memiliki latar belakang tersebut dapat melakukan tindakan-tindakan sosial politik tertentu.
Umat Islam sebagai mayoritas masyarakat Indonesia memiliki sistem bertindak dan sistem hubungan sosial yang tersusun dalam institusi syariah sebagai norma hukum. Institusi syariah tersebut disusun berdasarkan ajaran Islam yang tercantum dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul.1 Karena itu umat Islam dalam menentukan sikap dan tindakannya selalu dikaitkan dengan ajaran Islam.
Dalam Pemilihan Umum sebagian besar umat Islam menjadikan agama sebagai dasar memilih organisasi politik. Hal itu terutama terjadi di daerah-daerah yang umat Islamnya dikenal fanatik, seperti Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
1 Abdul M. Mulkhan, Perubahan Perilaku Politik dan Polarisasi Umat Islam 1965-1987, Jakarta, Rajawali, 1989, hal. 3.