Kebiasaan menonton tayangan televisi di kalangan remaja, baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, memiliki beberapa kesamaan. Rata-rata mereka menghabiskan 3-4 jam dari 5 jam free time dalam sehari untuk melihat televisi. Penelitian M. Budyatna terhadap perilaku remaja Jakarta menonton televisi, yang diwakili penghuni rumah susun dan penghuni real estate, mengungkapkan adanya beberapa perbedaan selera terhadap acara televisi. Sampai sejauh mana pengaruh adegan kekerasan dalam tayangan televisi menimbulkan hal-hal negatif di kalangan remaja. Apakah ada kaitannya dengan perkelahian antar pelajar sekolah di Jakarta?
Pendahuluan
Kegiatan manusia di kota-kota besar, seperti Jakarta, dapat diasumsikan terbagi ke dalam tiga kegiatan menurut ukuran waktu. Dari jumlah waktu sehari semalam, 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk bekerja di kantor atau sekolah, dan sisanya untuk kegiatan di luar kegiatan rutin tersebut. Penggunaan sisa waktu yang 8 jam amat bervariasi dan tidak seluruhnya untuk kegiatan santai (leisure time). Ada yang digunakan untuk memasak di rumah, memelihara anak, menyelesaikan pekerjaan rumah, berolah raga, menonton TV, pergi ke bioskop, membaca koran dan sebagainya.
Belum jelas berapa dari sisa yang 8 jam itu dialokasikan bagi masing-masing kegiatan. Berapa banyak waktu yang dihabiskan oleh para remaja SLTA untuk menonton acara-acara tayangan TV di DKI Jakarta.
Sebuah penelitian di Amerika, yang dilakukan tidak terbatas di kalangan remaja, menyebutkan alokasi waktu 8 jam itu sekitar 3 jam digunakan untuk mandi, makan, berpakaian, istirahat, dan merawat anak.1Sisa 5 jam disebut free time, dalam arti individu bebas menentukan segmen waktu tersebut untuk kegiatan apa saja. Menurut penelitian tersebut 3 jam digunakan untuk menonton televisi dengan tambahan waktu 1,5 jam di hari libur. Sebagian lagi untuk mendengarkan radio, membaca koran, majalah dan jarang pergi ke bioskop. Orang jarang pergi ke bioskop karena apa yang tersaji di bioskop juga terdapat di TV. Lagi pula dengan adanya pesawat televisi berwarna kenyamanan menonton tidak beda dengan di bioskop, di samping pilihan yang cukup beragam mengingat hadirnya banyak stasiun TV.
Di Indonesia dalam waktu singkat terdapat 5 stasiun TV dan semuanya dimiliki swasta. Ini berarti pilihan acara semakin banyak dan lebih bervariasi. Setiap stasiun TV, termasuk TVRI, bersaing menyajikan program serta memperpanjang jam siaran. RCTI, misalnya, memiliki jam siaran sebanyak 5.004 jam per tahun. Kalau setiap stasiun TV memiliki jam siaran yang sama dapat dibayangkan betapa banyaknya pilihan yang tersedia bagi para pemirsa. Belum lagi acara TV luar negeri yang dapat dinikmati melalui parabola.
Masalahnya, bagaimana sepertiga waktu dari delapan jam di luar kegiatan rutin seperti tidur dan sekolah di kalangan remaja pelajar SLTA di Jakarta digunakan. Apakah jumlah waktu yang mereka gunakan untuk menonton tayangan TV sama seperti hasil penelitian di Amerika. Ataukah lebih banyak waktu belajar di rumah tersita untuk kegiatan lain seperti menonton TV.
Penelitian ini ingin menjawab beberapa pertanyaan berkaitan dengan perilaku remaja Jakarta sebagai penonton tayangan televisi. Pertama, berapa banyak alokasi waktu yang digunakan para remaja di Jakarta untuk menonton TV. Kedua, apakah kegiatan menonton TV menyita pula waktu untuk belajar di rumah serta kegiatan lainnya. Ketiga, apakah yang menjadi motivasi para remaja untuk menonton acara-acara TV. Keempat, pelajaran atau manfaat apa yang diperoleh secara kognitif dari acara-acara yang ditonton. Kelima, apakah film-film TV yang penuh dengan kekerasan (violence) dapat berfungsi sebagai katarsis (chatarsis) bagi sifat-sifat agresif remaja atau malah sebagai pendorong (instigator) ke arah tindakan yang agresif atau bahkan tidak berpengaruh apa-apa.
Penelitian ini bersifat deskriptif, atau sering juga disebut taksonomik, yang dimaksudkan untuk eksplorasi dan klasifikasi suatu fenomena atau kenyataan sosial dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti.2 Penelitian ini tidak sampai mempersoalkan jalinan hubungan antarvariabel yang ada. Tidak pula dimaksudkan untuk menarik generalisasi yang menjelaskan variabel-variabel anteseden yang menyebabkan suatu gejala atau kenyataan sosial. Karena itu, pada suatu penelitian deskriptif tidak menggunakan dan tidak melakukan pengujian hipotesis serta tidak dimaksudkan membangun dan mengembangkan perbendaharaan teori.
1 Bradley S. Greenberg, “Mass Communication and Social Behavior,” dalam Gerhard J. Hanneman & William J. McEwen, (eds.) Communication and Behavior (Menlo Park, California: Addison-Wisley Publishing Company, 1975).
2 Sanapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial: Dasar-dasar dan Aplikasi (Jakarta: Rajawali Pers, 1992).