Prisma

Perkembangan Film Indonesia dan Kualitas Penonton

Perkembangan film tidak bisa dilepaskan dari peran kritik dan sensor. Sensor yang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari “pengaruh buruk” film, seringkali menghambat kreatifitas para pembuat film. Sedangkan kritik film di Indonesia belum dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap film ataupun menyebabkan para sineas membuat film dengan gaya baru. Keadaan ini tidak akan berubah bila kelas menengah dan kaum terpelajar tidak ikut terlibat dalam dunia film Indonesia.

DI Indonesia dewasa ini popularitas film Indonesia sama dengan popularitas petai. Jika petai dikenal karena baunya yang busuk, maka film di Indonesia atau barangkali lebih tepat film Indonesia populer karena keburukan-keburukannya. Sekiranya film Indonesia punya wajah maka wajah itu sudah lama rusak karena dilempari dengan segala macam dakwaan buruk, mulai dari perusak moral masyarakat, racun bagi generasi muda sampai pada alat untuk memperbodoh rakyat Indonesia.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan