Prisma

Perkembangan Kota-Kota di Sumatera Barat

Orang-orang yang beruntung hidup dalam tiga zaman dapat menyaksikan bahwa rata-rata kota-kota yang ada di Sumatera Barat sekarang ini tidak banyak berbeda dengan keadaannya sebelum perang. Kecuali perluasan daerah administratif dari beberapa kota tersebut, yakni memasukkan kampung-kampung sekelilingnya ke dalam wilayah kota, wajah kota-kota itu sendiri tidak banyak menunjukkan perubahan-perubahan. Jalan yang ada rata-rata tidak bertambah. Rumah-rumah, gedung-gedung, kantor-kantor, pasar-pasar, dan sebagainya, sebagian besar masih berupa bangunan-bangunan sebelum perang. Kecuali pembangunan-pembangunan yang berlaku di beberapa bagian kota Padang, pembangunan di kota-kota lainnya hampir tidak kelihatan.

Dilihat dari segi pertambahan jumlah penduduk kota sendiri, juga kentara bahwa penduduk kota di Sumatera Barat bertambah dengan lambat. Pertambahannya di bawah angka rata-rata nasional. Seperti yang terlihat pada Tabel 1, penduduk kota di Sumatera Barat menurut Sensus 1961 hanyalah 12% dari penduduk Sumatera Barat seluruhnya (atau 14% jika kota-kota Kabupaten, yang bukan Kotapraja dimasukkan), sedang penduduk kota di Indonesia adalah 15,5% dari penduduk Indonesia seluruhnya1. Lagi, walaupun penduduk dari ke enam Kotamadya di Sumatera Barat bertambah sebanyak 2,6 kali dari tahun 1930 ke tahun 1961 dan penduduk Sumatera Barat hanya 1,2 kali, tetapi perkembangan penduduk dari ke enam kota tersebut dari tahun 1961 ke tahun 1971 hanyalah sebanyak 1,1 kali, sedang penduduk Sumatera Barat sendiri berkembang sebanyak 1,2 kali. Jadi dalam sepuluh tahun terakhir ini perkembangan penduduk kota di Sumatera Barat lebih lambat, atau kira-kira sama dengan perkembangan penduduk Sumatera Barat seluruhnya. Ini sekaligus membuktikan bahwa secara demografis arus urbanisasi sejak sepuluh tahun belakangan ini tidak terjadi di Sumatera Barat, kecuali arus urbanisasi yang bergerak ke luar daerah Sumatera Barat, yakni yang berupa perantauan.

Atau apa yang terjadi selama ini ialah semacam proses “involusi” seperti yang disinyalir oleh Hans-Dieter Evers,2 dimana perpindahan ke kota-kota di Sumatera Barat sendiri hanyalah berupa batu loncatan sementara untuk melompat ke rantau yang lebih jauh ke kota-kota di luar Sumatera Barat, terutama Medan, Pekanbaru, Palembang dan Jakarta.


1 Lihat, Sensus penduduk 1961 Republik Indonesia, Biro Pusat Statistik, 6 Juni 1962. Lihat juga, Pauline D. Milone, Urban Areas in Indonesia: Administrative and Census Concepts, Research Series, No. 10, Institute of International Studies, University of California, Berkeley, 1966, p. 3, dan p. 82

2

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan