Pemikiran modernis Turki, secara intelektual maupun emosional, telah lama mengalami kemerosotan dan kehampaan. Kendati demikian, kaum intelektual Muslim Turki telah meletakkan landasan bagi kebangkitan pemikiran Islam. Menurut Ziauddin Sardar, munculnya suatu mazhab kontemporer di kalangan intelektual muda menunjukkan dekade mendatang Turki secara intelektual paling terkemuka di dunia Muslim.
PANORAMA yang terhampar dari jembatan Galata di Istambul begitu mempesona. Keindahan dan kekuatan hipnotis yang diperoleh dari lanskap historis negeri ini ini akan memiliki makna khusus jika orang menyadari bahwa Istambul adalah satu-satunya kota di dunia yang berdiri di atas dua benua (Asia dan Eropa, Timur dan Barat). Jika pandangan diarahkan ke Tanduk Emas di mana dipertemukan selat Bosphorus dan Laut Marmara, orang dapat melihat bahwa sebagian besar kota ini, yang terletak di ujung tenggara Eropa, sangat jauh terpisahkan dari kawasan pinggirannya di Asia oleh air selat Bosphorus. Tetapi Istambul tidak hanya terletak di dua benua saja secara historis ia juga menjadi pusat pergolakan fisik dan intelektual dari dua peradaban Islam dan Barat.
Sejarah penaklukan dan penaklukan kembali Istambul begitu termasyhur. Pada 1453, Sultan Mehmet II berhasil mengalahkan Byzantium dan mengakhiri dominasi Barat terhadap Istambul. Negara-negara Eropa kemudian menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan kesultanan Usmani, yang pada akhirnya memang dihapuskan pada 1922. Pada tahun berikutnya, Mustafa Kemal mengumumkan bahwa Turki merupakan bagian dari Eropa. Dengan didirikannya Republik, bangsa Turki secara fisik menguasai Istambul dan Turki, tetapi secara intelektual mereka menyerahkan kendalinya di bawah pengaruh peradaban Barat.
Tidaklah terlalu mengagetkan untuk mengatakan, bahwa pemikiran intelektual Barat telah memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam alam pikiran Turki; Dampaknya terasa benar-benar menyeluruh dibandingkan dengan yang dialami negeri-negeri mana pun di dunia Muslim. Kendati pun demikian, kelompok-kelompok muslim tradisional, terutama gerakan Sufi, mempunyai akarnya yang sangat kuat di Turki – meskipun kesultanan Usmani hanya bertahan selama enam ratus tahun – dan telah menancapkan pengaruhnya yang mendalam di kalangan sebagian besar penduduk. Kelompok-kelompok inilah yang telah berhasil memelihara, bahwa paling tidak secara spiritual, jika bukan secara intelektual, suatu segmen komunitas terpelajar Turki tetap bertahan di dalam lingkungan Islam. Pengaruh gerakan Sufi dan landasan spiritual yang ditinggalkannya itulah yang kini membuahkan hasil dalam bentuk munculnya variasi baru intelektual Sufi yang tidak hanya tertarik pada pemikiran Islam klasik tetapi juga cukup cakap menghadapi gagasan modernis.