Pendahuluan
HKBP adalah singkatan dari Huria Kristen Batak Protestan, suatu gereja suku persekutuan orang Batak Toba yang menganut agama Kristen Protestan. Sebagaimana diketahui, suku Batak terdiri dari lima sub-suku yang masing-masing: Batak Toba, Batak Angkola/Mandailing, Batak Simalungun, Batak Karo dan Batak Dairi. Dari kelima sub-suku tersebut Batak Toba merupakan sub-suku yang paling besar jumlahnya, dan boleh dikata merupakan sub-suku yang paling dominan dari suku Batak.
Mayoritas orang Batak Toba menganut agama Kristen Protestan, dan HKBP merupakan Gereja Kristen yang terbesar jumlah anggotanya di seluruh Indonesia bahkan mungkin di Asia Tenggara. HKBP tersebar di mana-mana di pelosok nusantara di mana orang Batak merantau. Bahkan HKBP ada di Malaysia dan Singapura. Begitu terikatnya orang Batak Toba terhadap HKBP ini, sampai-sampai ada pemeo: bila di suatu tempat ada sepuluh keluarga orang Batak Toba, maka mereka akan mendirikan HKBP.
Ciri khas dari HKBP adalah bahwa dia merupakan suatu gereja rakyat, di mana di dalamnya berbaur identitas kultural Batak dengan identitas kekristenan.1 Di mana terjadi pengambilan alih nilai-nilai dan pola-pola kultural lama ke dalam gereja, sehingga menjadikan HKBP selain sebagai suatu gereja persekutuan Kristen sekaligus juga sebagai suatu persekutuan budaya, dan oleh karena itu menjadikan HKBP sebagai suatu gereja yang populer bagi orang Batak Toba, terutama di daerah perantauan.
Uraian berikut ini mencoba untuk menyoroti Gereja HKBP sebagai suatu gereja persekutuan Kristen tetapi sekaligus sebagai persekutuan budaya dengan segala konsekwensi yang ditimbulkannya, yang menjadikan HKBP sebagai suatu persekutuan agama yang penuh gejolak, namun tetap dibutuhkan orang Batak Toba karena di sana mereka juga menemukan identitas kultural mereka.
Latarbelakang sejarah
Terbukanya tanah Batak terhadap dunia luar tidaklah terlepas dari masuknya unsur-unsur agama Kristen yang dibawa para missionaris Barat. Sampai dengan abad ke delapanbelas tanah Batak masih tertutup bagi dunia luar. Mereka terpencil di antara suku-suku di sekitarnya yaitu suku Minangkabau di Sumatera Barat dan suku Melayu di daerah Sumatera Timur dan Utara. Tanah Batak mendapat sentuhan pertama kali dari unsur luar setelah kedatangan dua orang missionaris Baptis berkebangsaan Inggeris bernama Nathaniel Ward dan Richard Burton pada tahun 1824. Tetapi kedua missionaris ini gagal karena mereka ditolak orang Batak. Kemudian sentuhan lain datang dalam bentuk perang yaitu serbuan Tuanku Rao dari Sumatera Barat (1825-1829) yang menyerbu tanah Batak sampai ke pedalaman.2
1 Tentang sejarah dan seluruh aktivitas HKBP ditulis dengan panjang lebar oleh Dr. Walter Lempp dalam “Benih yang Tumbuh”, seri XII, Survey mengenai Gereja-gereja di Sumatera Utara, (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi Dewan Gereja-gereja di Indonesia, 1976).
2 Sebuah buku yang kontroversial mengenai Tuanku Rao; Lihat Mangaradja Onggang Parlindungan, Tuanku Rao, (Jakarta: Penerbit Tandjung Pengharapan, 1964).