Meskipun film Indonesia paling laku di bioskop kelas-kelas bawah di kota-kota besar, tetapi hampir tidak ada film Indonesia yang mempersoalkan kehidupan golongan miskin dan/atau mempersoalkan sebab-sebab terjadinya kesenjangan sosial. Film-film yang sifatnya ‘kritik sosial’ sekali pun memiliki kecenderungan untuk ‘mengalahkan’ golongan miskin dan ‘memenangkan’ golongan terpelajar dari kelas menengah.
Film-film Indonesia selalu dianggap sebagai hiburan bagi anggota masyarakat bawah yang tidak terdidik. Ketika saya melakukan penelitian lapangan di Jakarta pada tahun 1980-an, teman-teman mahasiswa tidak habis mengerti mengapa saya bisa tahan menonton film-film Indonesia yang mereka anggap “norak’ dan “kampungan.”1Tidak adanya selera tinggi dari penonton film Indonesia selalu digunakan sebagai alasan, mulai dari jaman kolonial Belanda, untuk menerapkan sistem sensor yang ketat untuk “pemberantasan bahaya-bahaya kesusilaan dan bahaya-bahaya kemasyarakatan yang berkaitan dengan pertunjukan film.”2Hampir semua produser dan distributor yang saya wawancarai sependapat bahwa karcis untuk film Indonesia paling laku di bioskop kelas bawah di kota-kota besar. Pada tahun 1970 sebuah Surat Keputusan Menteri mengharuskan untuk gedung-gedung bioskop mewah mempertunjukkan film Indonesia. Tulisan ini berusaha menganalisa penggambaran perbedaan-perbedaan sosial-ekonomi antar-golongan dalam film-film Orde Baru, yang mendasari arti sosial film Indonesia.3
* Artikel ini diterjemahkan dari judul asli ‘Power and Poverty in New Order Cinema: Conflicts on Screen’ yang sudah diterbitkan dalam Paul Alexander (ed) Creating Indonesian Cultures, Sydney: Oceania Publication, 1989.
1 Teman-teman ini hanya menonton film ‘Inggris’, yang anehnya mencakup juga film Itali yang di ‘dub’ ke dalam bahasa Inggris dengan teks Bahasa Indonesia, atau film kung-fu dari Taiwan dan Hong Kong.
2 Pembukaan pada Ordinasi Film yang dibuat pada tahun 1940, yang sampai tahun 1971 tetap menjadi dasar kriteria sensor.
3 Saya menggunakan istilah ‘kelas’ dalam pengertian umum, pengertian yang juga digunakan dalam tulisan-tulisan ilmiah dan tulisan politik tentang Indonesia. Istilah ini mengacu pada perbedaan kekayaan, yang terlihat dari pola konsumsi terhadap barang-barang dan jasa. Film Indonesia sendiri mengkonstruksi perbedaan sosial dalam pengertian perbedaan akses terhadap gaya hidup dan kekayaan.