Dalam upaya mengembangkan bentuk pembangunan alternatif, Lembaga Swadaya Masyarakat berinteraksi dengan banyak pihak. Selain masyarakat yang menjadi sasarannya, sebuah LSM seringkali harus berhubungan dengan LSM lainnya, di samping tentunya dengan pemerintah dan lembaga donor. Dengan mengambil kasus Yogyakarta, penelitian ini bermaksud untuk menggambarkan pola-pola hubungan yang terwujud antara pihak-pihak tersebut.
SEJAK 1970-an hingga awal 1980-an banyak sarjana yang bersemangat mengemukakan bahwa Lembaga Swadaya Masyarakat (“Organisasi Non-Pemerintah”: LSM) memainkan peranan penting dalam pengembangan dan pembangunan masyarakat. Para sarjana itu mengusulkan bahwa lebih banyak perhatian selayaknya diberikan kepada organisasi ini karena mereka tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengakomodasi aspirasi tetapi juga partisipasi dari grassroots. Dan organisasi non-pemerintah semacam ini biasanya lahir dari masyarakatnya sendiri, kecil, efisien dan lebih efektif dari birokrasi pemerintah.
* Artikel ini adalah ringkasan dari thesis Master penulis di University of Iowa yang berjudul: “The Communication Patterns Among NGOs di Yogyakarta: A Pilot Study” (Mei 1967).