Abraham Peper. Pertumbuhan Penduduk Jawa, Jakarta: Bhratara, 1975, 156 hal.
Buku ini merupakan terbitan No. 52 dari segi terjemahan karangan-karangan Belanda dalam rangka kerjasama antara LIPI dan KILTIV. Judul asli berbunyi Grootte en groei van Java’s inheemse bevolking in de negentiende eeuw.1
Drs. Suharto kepala Pusat Penelitian Penduduk Leknas (LIPI) dalam kata pengantar terbitan itu memperkenalkan penulis demikian. Abraham Peper adalah seorang sarjana dengan latar belakang pendidikan geografisosial yang setelah lulus dengan cum laude dari Universiteit van Amsterdam tahun 1965, mendalami sosiologi-ekonomi dan sosiologi-organisasi. Mulai tahun 1971 mengajar di Erasmus Universiteit Rotterdam di mana ia sejak tahun 1975 menjabat gurubesar luarbiasa dalam matakuliah ilmu sosiologi ekonomi-kebijaksanaan.
Peper dan Breman
Pokok pembicaraan sudah tercermin dalam anakjudul karangan, yakni suatu pandangan lain, khususnya mengenai masa 1800-1850. Sebenarnya yang mendorong Peper untuk menulis skripsinya mengenai sejarah demografi Jawa itu, adalah suatu skripsi lain, juga dari seorang sosio-geograf J.C. Breman yang berjudul Java: bevolkingsgroei en demografisch structuur. Inipun sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Bhratara, sehingga sebelum menelaah karangan Peper, seyogyanya terlebih dulu karangan Breman dibaca.2
Dalam literatur demografi, pertumbuhan penduduk di Jawa menduduki tempat istimewa dalam arti luar biasa cepatnya. Adapun penyebabnya terletak pada tiga faktor luar. Perbaikan taraf ekonomi penduduk pribumi, peningkatan kesehatan penduduk khususnya lewat usaha pencacaran dan adanya ketentraman dan tatatertib berkat Pax Neerlandica.
Para peneliti sejarah kependudukan Jawa yang pada umumnya adalah ekonom, cenderung untuk menerima angka penduduk Jawa yang menurut Raffles pada tahun 1815 besarnya 4,5 juta jiwa atau menurut dokter Bleeker 3,6 juta pada tahun 1802. Karena jumlah penduduk pada tahun 1900 ada 28,5 juta maka pertambahan penduduk per tahun dalam abad ke 19 disebutkan 2,2% atau 2,1%.3
Peper menyayangkan bahwa Dr. Widjojo Nitisastro sebagai penelaah yang saksama, dalam disertasinya Migration, Population Growth and Economic Development in Indonesia (1961) tidak berusaha melakukan pembetulan; barulah Breman (1963) yang tegas-tegas berani memberikan kritik dan koreksi. Menurut Breman angka pertambahan tahunan 2,2% berdasarkan sumber Raffles itu terlalu tinggi, sedang angka penduduk 4,5 juta untuk tahun 1815 terlalu rendah. Mestinya ditambah dengan 34% menjadi 6,3 juta dan yang 10 juta untuk tahun 1850 mestinya dinaikkan menjadi 12,5 juta. Dengan demikian maka pertambahan penduduk dalam masa 1800-1850 dan 1850-1900 masing-masing hanya 1,4% dan 1,7% saja setahunnya. Jika diambil untuk seluruh abad ke 19 menjadi 1,6%.
N. Daldjoeni: Penulis tinjauan ini adalah Dosen Ekologi-Sosial dan Demografi Universitas Satya Wacana Salatiga dan Dosen Geografi-Regional Universitas Gajah Mada Yogyakarka. Menulis banyak resensi terutama di harian Kompas, dan penulis buku Bunga Rampai Ekologi Sosial, Salatiga: LPIS Satya Wacana, 1974.
1 Terbit sebagai Publicatie no. 11 dari Afdeling Zuid- en Zuid Oost-Azië, Anthropologisch-sociologisch Centrum, Universiteit van Amsterdam, 1967.
2 J.C. Breman, Djawa: pertumbuhan penduduk dan struktur demografis, Bhratara, Djakarta, 1969. Karangan ini mula-mula dimuat dalam TKNAG (Tijdschrift van het Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap), Juli 1963, hlm. 252 dan seterusnya.
3 Dalam tulisan P. Bleeker yang lain; Nieuwe bijdragen tot de kennis der bevolkinsstatistiek, Uitg. KITLV van Nederlandsch Indiē, Nijhoff, ‘s Gravenhage, 1870, hlm. 5-9: dalam tempo 72 tahun (1795-1867) penduduk Jawa dan Madura bertambah dari 3.500.000 jiwa menjadi 15.002.818, sehingga pertumbuhan tahunan ada 2,05%.