Prisma

Perubahan-perubahan Strategis dalam Percaturan Politik Internasional Memasuki Dasawarsa 1980-an

Dalam percaturan politik internasional, periode 1970-an sering dinamakan “era upaya ke arah détente” sebagai pencerminan kemauan manusia keluar dari keadaan yang dihantui perang nuklir. Tetapi sampai akhir periode 1970-an, tetap ditandai oleh suatu stagnasi politiko-strategis di mana détente berlangsung secara tersendat-sendat. Menurut Jusuf Wanandi, dalam dasawarsa 1980-an ini usaha utama di bidang hubungan internasional adalah untuk mencegah terjadinya krisis. Sebab setiap krisis lokal cenderung berkembang menjadi pertikaian global, dan pemecahannya akan menjadi sulit karena konstelasi kekuatan baru di dunia dewasa ini.

Pendahuluan

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, percaturan politik internasional telah mengalami berbagai perubahan, tetapi kesemuanya itu dapat dilihat dalam suatu kesinambungan yang dinamis. Walaupun seringkali secara analitis dapat dirumuskan periode-periode perkembangan yang masing-masing mempunyai ciri-cirinya yang khas, namun masing-masing periode tersebut tidaklah eksklusif satu terhadap lainnya. Perubahan-perubahan yang terjadi tidak bersifat fundamental dalam arti mengubah alur (trend) percaturan politik internasional periode post-Perang Dunia II. Mungkin hanya suatu perang dunia yang sanggup menciptakan perubahan yang radikal. Sebagai suatu kejadian dengan intensitas yang begitu besar, pengaruh yang begitu luas dan akibat yang begitu mendalam, perang dunia bisa mengubah alur perkembangan karena terbentuk kemauan manusia untuk melakukan perubahan.

Suatu tinjauan strategis perlu mendalami ketiga elemen di atas: alur, kejadian, dan kemauan manusia. Suatu contoh yang kiranya masih segar dalam ingatan adalah periode yang dapat dinamakan “era upaya ke arah détente”. Detente atau peredaan ketegangan pada tingkat internasional telah diperjuangkan dalam dasawarsa 1970-an oleh sejumlah negara di dunia. Kemauan manusia untuk menciptakan perubahan, keluar dari keadaan yang dihantui senjata-senjata nuklir, mempunyai tujuan untuk menghindarkan suatu kejadian. Rupanya, kemauan itu sendiri tidak ditunjang oleh suatu kejadian yang bisa mengubah alur perkembangan. Dapat dikatakan bahwa bagian terakhir dasawarsa 1970-an ditandai oleh suatu stagnasi politiko-strategis. Upaya ke arah détente tidak pernah musnah sama sekali tetapi berlangsung secara tersendat-sendat.

Duduk persoalannya kiranya sudah jelas. Detente mengalami kegagalan karena Uni Soviet tidak secara penuh berkemauan untuk memasuki alur perkembangan yang baru. Kepentingan Uni Soviet untuk melibatkan diri dalam proses détente adalah terutama dalam bidang ekonomi. Sejauh kaitan ekonomis antara Blok Barat dan Blok Timur melibatkan kebebasan arus perdagangan barang dan sampai batas tertentu juga arus modal, perubahan yang terjadi masih dapat ditolerir oleh sistem politiko-ideologis yang dianut Uni Soviet. Tetapi karena détente dalam arti yang murni juga harus melibatkan kebebasan arus orang dan pemikiran-pemikirannya, interaksi serupa ini dalam dirinya membahayakan kelangsungan sistem politiko-ideologisnya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan