Prisma

PESANTREN

“Kecenderungan untuk meremehkan dinamisme Islam terlihat jelas baik di kalangan elit pemerintahan maupun di antara para sarjana terpelajar seperti seabad yang lalu, sebuah karakterisasi yang berlaku, pada umumnya, untuk para pemimpin negara-negara Islam dan para mahasiswa Islam pada umumnya.” (Clifford Geertz: Modernisasi dalam Masyarakat Muslim. Kasus Indonesia, 1963).

1

Tumbuhnja pesantren dan penjebarannja sampai kepelosok pedesaan adalah merupakan bagian tak terpisahkan dari penjiaran agama Islam, Pada permulaan penjiaran Islam di Indonesia, menghadapi suatu kebudajaan jang telah mapan (didirikan), jang berpusat di Ibukota keradjaan. Dengan berangsur-angsur selama djangka waktu jang amat pandjang, terdjadilah perubahan, sehingga Islam dapat menggantikan peranan kepertjajaan sebelumnja, jaitu Hinduisme, Budhisme dan kepertjajaan setempat. Kaum Muslimin pada saat itu berusaha mengembangkan adjaran Islam dengan menggunakan sumber kekuatannja sendiri. Dalam usahanja itu, tidak pernah sepenuhnja berhasil, tetapi tidak pula seluruhnja gagal, namun sudah pasti bahwa peranan lembaga pendidikannja adalah amat penting. “Tanpa adanja pesantren, kemudian madrasah dan sekolah Islam”, demikian menurut Geertz, “di Indonesia tidak akan ada apa jang disebut sebagai masjarakat Islam”.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan