Tiga kubu utama dalam ajang perbedaan pendapat tentang ilmu ekonomi sebagai “ratu ilmu-ilmu sosial”. Kaum ekonom konvensional berada di satu pihak mendapatkan serangan baik dari pihak kanan bersama kaum liberal maupun dari golongan kiri yaitu kelompok radikal Marxis, maupun neo-Marxis. Aliran radikal menginginkan suatu cara baru dalam melihat persoalan-persoalan ekonomi terutama dengan memakai analisa kekuasaan dan analisa konflik antar kelas. Tetapi oleh pihak kanan dikatakan bahwa kritik kaum kiri hanyalah retorika. Sebaliknya yang konvensional dituduh sebagai terlalu teknis dan tidak relevan. Lantas apa itu ilmu ekonomi? M. Dawam Rahardjo mencoba menjawabnya dengan mencari paradigma baru.
I
Sejak berputarnya abad ini, demikian kata Samuelson, hadiah-hadiah Nobel telah diberikan setiap tahun dalam bidang fisika, kimia, kedokteran, fisiologi, kesusasteraan dan perdamaian. Dan bagaikan menyambut datangnya abad ekonomi-politik sebagai ilmu, sebuah hadiah Nobel baru dalam ilmu ekonomi telah dilembagakan pada tahun 1969, yaitu dengan penganugerahan hadiah tersebut kepada Profesor Ragnar Frisch dari Norwegia dan Profesor Jan Tinbergen dari Negeri Belanda. Oleh Samuelson dan kelompok ahli-ahli ekonomi yang menempatkan dirinya dalam aliran ekonomi mainstream, ilmu ekonomi moderen yang merupakan sintesa baru dan berkembang pada masa sesudah era Keynesian itu, dengan penuh kebanggaan dan tanpa ragu disebut sebagai “ratu dari segala ilmu-ilmu sosial”. Ilmu ekonomi ini, “tertua sebagai seni, terbaru di lingkungan ilmu-ilmu pengetahuan.”1
Sungguhpun demikian Samuelson juga sadar bahwa ilmu ekonomi moderen post-Keynesian dewasa ini berada dalam serangan gencar, baik dari sebelah “kanan” yang konservatif, maupun dari sebelah “kiri” yang radikal. Sebenarnya serangan itu datang dari tiga jurusan. Pertama, datang dari kelompok libertarian yang mendambakan (lebih tepat, menyimpan nostalgia) dapat dihidupkannya kembali nilai-nilai sosial dan sistem kelembagaan yang pernah mewarnai kehidupan ekonomi di Amerika Serikat pada masa sebelum New Deal, sebelum mana Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis lainnya belum melangkah memasuki tahap yang oleh Friedrich von Hayeck disebut “jalan menuju ke perhambaan.” Termasuk dalam kelompok ini adalah Frank Knight, Henry S. Simons, Friedrich von Hayeck dan yang paling disegani adalah tokoh penerima Nobel (1976), Milton Friedman.2
Serangan lain berasal dari ujung kiri yang menyebut diri mereka sebagai kelompok radikal, Marxist, Neo-Marxist, umumnya penganut paham sosialis. Mereka itu bukannya penganut ideologi komunis, bahkan tidak setuju dengan sosialisme yang dipraktekkan di Rusia oleh karena mereka umumnya secara pasti menentang segala bentuk kekuasaan politik otoriter, walaupun mereka pada umumnya bersimpati pada model pembangunan Cina dan pikiran-pikiran Mao. Namun mereka menyatakan dirinya Marxist, sebab mereka pada dasarnya menyetujui dan memakai metode historis-materialisme dan analisa klas dalam melihat perkembangan masyarakat dan sistem ekonomi, terutama kapitalisme. Mereka juga sepaham dengan Lenin, khususnya analisa Lenin tentang imperialisme dan kekuatan kapital monopoli sebagai tahap tertinggi dari perkembangan masyarakat dengan sistem ekonomi kapitalis. Namun mereka menolak dogmatisme dalam melihat dan menganalisa keadaan dan perkembangan masyarakat. Mereka adalah kelompok ahli ekonomi yang mendasarkan diri pada penalaran ilmiah namun berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial dan karena itu mereka itu memutuskan diri untuk memihak kepada golongan yang tertindas. Paul Baran dan Paul Sweezy, demikian pula Andre Gunder Frank dan John G. Gurley tergolong dalam kelompok ini. Pengaruh aliran radikal ini di kalangan akademi bukannya kecil; mereka itu meliputi 10% dari kalangan ekonom di Amerika Serikat. Di Inggeris, cakupan pengaruhnya tak kurang pula.3
1 Paul A. Samuelson & Peter Tenin, Ekonomi. Edisi kesepuluh, (Tokyo: McGraw-Hill, Kogakusha, Ltd.) hal. 6 dan 1.
2 Ibid., hal. 847. Milton sangat terkenal dengan bukunya Capitalism and Freedom, (Chicago University Press, 1966). Sedangkan Friedrich von Hayeck, pemenang hadiah Nobel tahun 1974 bersama Gunnar Myrdal, terkenal dengan bukunya The Road to Serfdom (1945).
3 Ibid., hal. 849. Paul Baran & Paul Sweezy terkenal dengan bukunya Monopoly Capital, (Monthly Review Press, 1966). Buku Sweezy yang lain adalah The Theory of Capitalist Development, (Oxford University Press, 1942). A.G. Frank terkenal dengan bukunya Capitalism and Under Development in Latin America, (Monthly Review Press, 1967), John G. Gurley tadinya tergolong dalam “mainstream economics” dan membuat reputasi dengan bukunya bersama E.S. Shaw berjudul Money in a Theory of Finance tapi kemudian menyeberang ke kiri dan menulis kritik terhadap teori konvensional, antara lain dapat dibaca artikelnya yang berjudul “Have Fiscal and Monetary Policies Failed?” dimuat di Tinjauan Ekonomi Amerika, LXII, 2, Mei 1972.