“BABE GUA Golkar, gua pilih PDI. Kenapa rupanya?” Itulah salah satu isi spanduk, di tengah warna merah, kepala banteng dan potret Bung Karno, dalam kampanye putaran akhir partai nomor 3 itu, pertengahan April 1987. Anak-anak muda rupanya mulai tegas menyatakan pilihan, kendati harus berbeda dengan orangtuanya.
Pawai, menjadi bentuk pilihan dalam musim kampanye. Anak-anak muda Jakarta mengisi pawai dengan idiom-idiom yang akrab dan lucu: “Bapak pilih Golkar, Ibu pilih PDI. Sorga di bawah telapak kaki Ibu. Jadi, saya PDI, dong!” Sama sekali ia jauh dari slogan yang sepertinya gagah, namun kosong.
Karnaval, pawai atau demonstrasi, tampaknya kian akrab dan menjadi bagian dari kultur atau kebudayaan pop anak muda, sejak revolusi musik rock pada dekade 1950-an. Gayanya menjadi lebih unik dan meriah dengan munculnya The Beatles, pemusik gondrong dari Britania Raya, dan semakin warna-warni bersama “generasi bunga” yang lebih suka hura-hura ketimbang dar-der-dor. Lewat pawai, kaum muda menyatakan secara tegas kehendaknya yang anti mapan.
Tentu, pawai yang ngepop ini menjadi tandingan dari gaya baris-berbaris model serdadu. Barisan serdadu kendati penuh semangat oleh hentakan genderang dan lengkingan terompet, toh tetap serba tertib, formal, seragam, kaku, dan pakai senapan pula. Di sisi lain, pawai penuh nyanyian, warna-warni, akrobatik, penuh senyum. Pendeknya, merdeka. Alhasil, pawai menjadi kecintaan kaum sipil.
Di negeri-negeri Dunia Pertama pawai menjadi tontonan saban hari. Ada ikan paus dianiaya, kelompok pencinta binatang bikin pawai. Ada penyakit AID’s, pasangan homo nikah, bahkan anjing ditabrak mobil, kawula bisa bikin pawai yang emosional pula. Di Dunia Ketiga, Filipina boleh girang. Soalnya, di kawasan Asean yang stabil ini, cuma di sana orang bisa menonton pawai sesekali. Akan halnya di tanah air kita yang nyaman ini, pawai spontan dan meriah cukup lima tahun sekali, saat kampanye Pemilu. Ketika itu, jika Anda mau jungkir-balik di atas kap mobil mewah, silakan sajalah, mumpung kampanye. Yang jelas, paling tidak seperti yang tampak dalam pawai PDI, juga PPP, kawula berani mengemukakan pilihan kendati melawan arus dan pasti kalah.
***
Sumbangan berarti yang bisa dipetik dari kultur pop ialah sikap kritis yang mendorong keberanian mencari alternatif: menentukan pilihan. Lebih tajam lagi, memilih posisi tandingan di tengah-tengah sistem yang berlaku. Anak-anak muda Amerika yang hitam dan putih pada akhir dekade 1940-an, tiba-tiba merasa tak ada musik buat mereka. Jazz sudah begitu rumit dengan be bop. Ia menjadi musik orang tua. Jadi, apa musik anak muda? Mereka memilih rhytm and blues yang kemudian dikembangkan generasi Bill Haley menjadi rock ‘n roll. Setelah rock generasi ini menjadi mapan bersama Elvis Presley, The Beatles membuat musik menjadi sarana guna mendobrak tata-nilai yang mapan dari generasi tua yang doyan perang. Rock bukan lagi sekedar musik, namun kebudayaan tandingan yang menghiasi jalan raya kota-kota dunia. Mereka curiga dan kritis terhadap sistem usang, berani merambah dunia yang lain. Itulah kultur pop: melawan arus dengan senyum, nyanyian, kembang, musik elektrik, busana seenaknya, cinta dan gaya hidup. Mereka mencipta terobosan bagi lahirnya pilihan.
Celakanya, di negeri tercinta ini, orang lebih suka pada pilihan yang menjanjikan keuntungan. Kultur yang ngetop di sini bukan tandingan, namun mumpung. Pokoknya pilih yang kuat, supaya dapat untung, pilih yang punya fasilitas, laba terjamin. Bikin saja lagu-lagu cengeng, karena ratapan laris terjual — bonus besar. Kenapa susah-susah? Bikin saja filem jiplakan Return to Eden, pilih bintang berwajah Indo, oke pula buka-buka, beres, keuntungan di tangan. Kalau begitu di sini bukan kultur pop yang dikenal, namun kultur yang ngepop, yang godaannya mumpung, serba wah dan hura-hura. Kultur ini tak menjanjikan alternatif, ia hanya memanfaatkan kebocoran.
Padahal, belajar dari sejarah pergerakan kebangsaan, kita tahu, Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan banyak nama lagi, menolak fasilitas ambtenaar dan memilih jalan perjuangan yang mengundang risiko penjara.
Namun mengharapkan yang begitu itu sekarang ibarat mimpi di siang bolong. Buat apa nostalgia? Bukankah memugar monumen lama serba mahal — ingat Borobudur — dan bisa mengundang lebih banyak kebocoran? Lebih baik santai-santai sajalah, putar radio, dengar siaran radio swasta niaga. Di Cinere, pinggir selatan Jakarta, ada Mustang (baca, Masteng) AM 738, Tune of the City, yang kesohor itu. Bila menyapa pendengar, sang disc-jokey atau DJ akan bilang, “Hi, boys and girls.” Aih, saya mendadak merasa jadi sinyo. Lagu-lagu yang diputar, 90 persen Barat — baru lagi — bila penyiarnya bicara, huruf “t” terdengar “th”, “tidak” diucapkan jadi thidak. Persis penyanyi pop cewek Indonesia yang sering tak sempurna mengucapkan kata-kata. Perkara gincu bahasa, “sinyo” dan “noni” dari Cinere ini memang yahud. “Hai, boys and girls, ini jalur acara Sweet Gentle Nite.” Huruf “r” pun terdengar cadel.
Mendengar Mustang, saya merasa menjadi bagian dari kultur ngepop yang lain yakni “budaya sinyo” alias Indo. Ya, ini sah saja di metropolitan: penuh hura-hura, bahasa campur aduk, bisik-bisik, dan konsumtif, seperti tak ada persoalan di dunia ini. Ya, ini pilihan yang lain, bicara sepotong saja, bahasanya gado-gado, putar lagu paling mutakhir — Barat pula — masuk iklan shampoo, parfum, mobil, lipstick, pewangi ketiak. Tak perlu segala informasi, apalagi edukasi, buang-buang waktu saja. Boleh jadi sinyo dan noni di Cinere ini sudah terlalu puyeng dengan segala relay pidato dari RRI, dan mereka pilih omong yang ringan saja, sapaan merasa, sedikit ketawa dan cup, cukup. Itulah komunikator kita. Toh semua ini begitu dari gaya hidup Indonesia hari ini.
***
Memang lebih afdol memilih “mumpung” ketimbang yang macam-macam. Yang penting; selamat, usaha lancar, rezeki mengalir. Mau macam-macam bisa pusing tujuh keliling. Soal “kabinet bayangan” saja sudah bikin orang blingsatan bak digigit kutubusuk, apalagi kalau muncul yang lebih aneh: kabinet tandingan. Dulu orang pernah berdebat, negara kita ini model apa? Negara sekuler atau theokrasi? Dan orang pun ramai-ramai bilang, bukan ini, bukan itu. Jadi apa? Orang cuma diam…
Padahal secara diam-diam, tanpa promosi, memilih gaya hidup tandingan adalah soal yang wajar dalam kehidupan orang sipil, rakyat kecil di tanah air yang elok ini. Tengoklah pedagang kakilima dan gerobak makanan keliling di sekitar kita: kata orang pintar, sektor informal. Mereka segar-bugar walau tanpa fasilitas, tetap optimis padahal harga naik. Mereka selalu hadir kendati sering ada pembersihan. Mereka paling banyak digusur, padahal paling rajin menyumbang petugas melalui uang kebersihan, uang keamanan, uang penerangan dan sumbangan wajib sukarela atau apapun namanya itu. Mereka ini bak anak-anak muda “generasi bunga” hidup mengembara dari pojokan sini ke sana, dari gang ke gang, mengutip rezeki dengan kerja keras, siap menanggung risiko digusur, demi ekonomi yang mandiri. Mereka sudah memilih posisi tandingan di tengah-tengah pemekaran kota yang rapi terpola.
Di Cirebon, Pak Jait, 70, seorang petani membuat “pertanian komplit” di atas tanah seperempat hektar. Dia tak mau tanam padi atau tebu yang hasilnya cuma musiman, namun belimbing, jambu, nangka, sirih, pisang, kangkung, bayam, sereh. Di kebunnya ada kolam-kolam ikan pula. Jadi, ada tanaman yang dipetik sehari-hari, ada yang bulanan, ada pula yang musiman. Tinggal di gubuk bambu — supaya tak beli batako atau semen — Pak Jait memilih gaya hidup kerja keras. Tentu banyak petani, kendati cuma memiliki tanah sempit, menentukan pilihan seperti Pak Jait, ketimbang jadi kuli tani.
Sayang, tak ada kontestan Pemilu yang mengundang orang-orang yang berani memilih kemandirian dan kehidupan melawan arus ini, untuk bicara. Padahal mereka sudah menjalankan — bukan baru menyusun program — gaya hidup tandingan.
***
Menentukan pilihan memang susah, namun ia tak bisa ditunda. Apakah mencari alternatif cuma milik Dunia Pertama, yang sudah siap-siap menundukkan alam raya, dan kita cukup menjadi pasar barang-barang sampah dari sana? Apakah keberanian kita menentukan kehendak cuma sampai ke pawai kampanye Pemilu? Tragis pula, bila pilihan kita mendukung pawai atau mencoblos partai ternyata mubazir. Artinya, parpol ternyata bukan sebuah alternatif, bila misalnya PPP atau PDI tidak berbeda, bahkan sama dan sebangun dengan Golkar.
Kebudayaan tak pernah berhenti. Ia novel yang tak pernah tamat. Ia mengalir menawarkan pilihan-pilihan. Pop dan sebagainya itu cuma nama, pembungkus dari berbagai pilihan kehendak. Seperti kehidupan yang kaya makna, pilihan selalu ada. Terpulang kepada setiap orang untuk sekedar menjadi “Pak Turut”, atau sedia untuk berbeda.