Pemilihan umum kepala daerah (pilkada) langsung DKI Jakarta tahun 2017 sangat menarik dan penting untuk dianalisis karena memberi warna tersendiri bagi perpolitikan nasional. Pilkada tersebut bukan hanya menjadi medan pertempuran bagi para kandidat yang bersaing, namun juga sebagai arena persaingan partai-partai politik yang mendukung kandidat masing-masing. Bahkan, Pilkada DKI Jakarta 2017 sering diberi makna sebagai representasi pemilihan umum (pemilu) Indonesia. Karena itu, jika kandidat yang didukung partai politik tertentu memenangi pilkada Jakarta, maka dapat diasumsikan partai pendukungnya pun akan memenangi pemilu yang akan diselenggarakan pada 2019. Namun demikian, tulisan ini tidak membincangkan upaya pemenangan pada Pemilu 2019, tetapi lebih pada analisis pilkada DKI Jakarta dengan pelbagai dinamikanya.
Artikel ini dibagi menjadi empat bagian. Pertama, membahas kerangka teori secara ringkas untuk menjelaskan sekaligus memahami perilaku pemilih dalam pilkada Jakarta. Tiga teori dibicarakan dalam bagian ini, yaitu pendekatan sosiologi, psikologi, dan pilihan rasional. Kedua, mendeskripsikan pilkada Jakarta putaran pertama, termasuk dinamika yang muncul di dalamnya, serta membahas profil dan partai pendukung masing-masing kandidat. Ketiga, menilai faktor kemenangan pasangan Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies- Sandi) serta kekalahan pasangan Basuki Tjahaya Purnama (akrab disapa Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat dalam pilkada Jakarta putaran kedua. Kemenangan Anies-Sandi disebabkan oleh kentalnya isu agama dan karakter kandidat bersangkutan. Bagian terakhir, keempat, merupakan simpulan yang merangkum seluruh pembahasan.