Buku yang membahas pemikiran Plato tentang filsafat politik ini terbit di Indonesia pada waktu yang tepat, yaitu tatkala politik nasional di negara kita diselenggarakan tanpa didukung oleh pendidikan politik, sekalipun hanya pada tingkat elementer dan minimal. Kita tahu, tanggung jawab seorang politisi sesungguhnya jauh lebih luas daripada tanggung jawab seorang profesional yang terbatas bidang keahlian dan tanggung jawabnya. Meski demikian, para profesional tidak pernah diperbolehkan menjalankan profesinya tanpa pendidikan yang teruji. Sementara politisi kita dapat menduduki jabatan politik dan melaksanakan tugas politik yang sedemikian luas, kendati mereka tidak dipersiapkan sama sekali dalam suatu pendidikan politik yang direncanakan. Buku ini hadir di antara kita sebagai peringatan bahwa keadaan sekarang merupakan ironi yang tidak lucu dengan banyak akibat mencoreng martabat seorang politisi yang mempunyai tanggung jawab dan fungsi sedemikian vital bagi kehidupan masyarakat.
Kedua penulis menguraikan hubungan politik dan pendidikan berdasarkan buku Plato berjudul Politeia yang ditulis filsuf ini pada abad ke-5 Sebelum Masehi atau The Republic dalam versi bahasa Inggrisnya. Ada beberapa isu yang saling berhubungan dan diperlihatkan hubungannya. Pertama, uraian tentang negara dan pemimpin negara atau negarawan, tentang pentingnya pendididkan untuk politik, tentang asas dan metode pendidikan bagi para calon pemimpin atau calon negarawan. Kedua, tentang hubungan di antara jenis pengetahuan dan pola tingkah laku dalam politik dan kebudayaan.
Semua uraian dan renungan dalam buku Politeia merupakan tanggapan Plato terhadap situasi kebudayaan dan pendidikan yang berkembang di Athena selama abad ke-7 dan ke-6 SM. Dalam masa itu, orang-orang Athena seakan memuja dua ideal dalam kebudayaan dan pendidikan mereka. Dari penyair besar Homeros yang menulis epos Illiad dan Odysseia diwariskan ideal negarawan-penyair. Dari kaum sofis diwariskan ideal ahli retorika dengan kepandaian berdebat dan berpidato.