DI lingkungan ilmu sosial, ekonomi – tepatnya ekonomi politik – merupakan ilmu yang tertua. Tetapi sebagai ilmu terapan, ekonomi pembangunan adalah si bungsu yang lahir dari Dunia Ketiga. Sejak tahun 40-an sub-disiplin ini makin mengukuhkan dirinya menjadi sebuah disiplin yang paling tidak disiplin, bercabang-cabang dan menjadi ajang pergulatan di antara dua aliran pemikiran besar dalam ekonomi politik moderen, yakni neo-Klasik dan Marxian.
Buku ini, pertama-tama ditujukan untuk secara kritis memperbandingkan berbagai perspektif yang membentuk wilayah perdebatan, baik di dalam studi maupun kebijakan ekonomi pembangunan. Diana Hunt mengkategorikannya ke dalam enam paradigma yang saling bersaing, berturut-turut: strukturalis, inti perluasan kapitalis, neo-Marxis, Maois, kebutuhan pokok, dan neo-Klasik, serta ketergantungan. Yang terakhir ini menurut Hunt masih berupa teri, dan belum diberi status sebagai suatu paradigma yang utuh. Alasan utamanya bukan hanya karena bobot kontroversinya yang tinggi dan generalisasi teoritisnya yang sering berlebihan di dalam perdebatan tentang pembangunan dan keterbelakangan, melainkan karena kritisisme yang muncul terhadap teori ketergantungan pada hakekatnya bersumber dari dua pendekatan ekonomi yang merupakan bebuyutan yakni neo-klasik dan Marxian.
Seperti kebanyakan karya yang mengulas perkembangan dan perdebatan teoritis, yang mau tak mau terarah untuk memberikan sebuah peta penjelas teori, buku ini dibuka dengan pendefinisian dan penafsiran ulang terhadap konsepsi ‘paradigma ilmiah’-nya Kuhn. Pergerakan ke tingkat meta-teori ini diperlukan supaya struktur rekapitulasi terhadap gugus pikiran, debat teori, discourse, dan bahkan implementasi kebijakan praktis yang berbeda-beda, bisa dilacak asal usul teoritisnya dan mampu dipetakan dengan jelas.