Prisma

Pola Konsumsi: Ke Arah Pemerataan?

Untuk jangka waktu yang sangat lama pola konsumsi umat manusia amat bersahaja. Aktivitas ekonomi dipusatkan pada satu tujuan utama: pemenuhan kebutuhan untuk kelangsungan hidup atau subsistence. Pada taraf teknologi tertentu, itu pun tak mudah dicapai. Pada tahap di mana masyarakat hidup dari hasil buruan, manusia menghadapi masalah hasil yang tidak teratur. Sering kebutuhan pokok sukar dipenuhi. Kemudian penemuan pertanian membawa kehidupan ekonomi kepada situasi yang lebih baik, yang lebih dapat diramalkan dan lebih tahan disimpan. Tetapi sejarah manusia membuktikan betapa kegagalan-kegagalan panen menimbulkan serentetan bahaya kelaparan yang dahsyat di berbagai penjuru dunia. Musim kemarau yang panjang mengakibatkan bahaya kelaparan yang dahsyat pada tahun 1769-1770 di Bengal (India), yang memusnahkan sekitar 10 juta manusia, yakni sepertiga dari seluruh penduduk. Bagian barat-daya Cina ditimpa kelaparan pada tahun 1876-1879, merenggut 9-13 juta jiwa.1 Kegagalan panen kentang tahun 1846-1851 di Irlandia membawa korban sebanyak 850.000 orang. Malapetaka tersebut mendorong kira-kira 970.000 orang Irlandia meninggalkan negerinya, untuk memperbaiki nasib di negeri lain. Revolusi industri, teknologi, perbaikan komunikasi, kemajuan pendidikan dan lain-lain menyajikan harapan-harapan baru yang tiada taranya. Harapan hidup (pada waktu lahir) cepat bertambah tinggi dan seiring dengan naiknya produktivitas, konsumsi pun meningkat dan ragamnya bertambah. Gaya hidup dan pola konsumsi mengalami perubahan bersamaan dengan berubahnya peranan sektor pertanian. Di negara-negara Barat sebelum revolusi industri, hampir 80 persen dari seluruh keperluan manusia berasal dari dunia tumbuhan dan binatang. Secara radikal ini dirombak oleh revolusi industri dan ekspansi secara mantap terjadi pada sektor-sektor baru: kimia, metalurgi dan mekanis.2 Kini pola konsumsi yang relatif cemerlang berkembang di negeri-negeri industri, yang menikmati tingkat kesejahteraan yang tinggi. Sebaliknya tiga perempat dari umat manusia masih terikat pada aktivitas pertanian subsistens dan dalam jumlah besar terjebak dalam kemiskinan dan kekurangan gizi. Konsumsi energi per kapita berdasarkan ekivalen kilogram batubara untuk 1975 diperkirakan sebagai berikut: Amerika Serikat 10.999 kg, Negeri Belanda 5.784 kg, Jepang 3.622 kg, Singapura 2.151 kg, Malaysia 578 kg, Indonesia 178 kg dan Bangladesh 28 kg.3 Perbedaan yang menyolok dalam pola konsumsi tidak hanya terdapat antara negara industri dan negara yang sedang berkembang, tetapi juga antara golongan-golongan masyarakat dalam satu negara yang miskin.


1 W.S. Thompson dan D.T. Lewis, Masalah Populasi, (New York: McGraw-Hill, 1970), hal. 390-394.

2 CM Cipolla, Sejarah Ekonomi Populasi Dunia, Penguin Books, 1970, hal. 67.

3 Dorothy Nortman dan E. Hofstatter, Program Kependudukan dan Keluarga Berencana, (New York: Dewan Kependudukan, 1978).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan