Umurnya 40. Kerja sehari-harinya mengayuh becak. Tapi dia pandai juga sebagai tukang kayu, tukang tembok, tukang batu. Pokoknya, dia bisa disuruh membangun rumah. Lantas, kenapa harus membecak, dan melarat? Kalau dia ditanya, dongengnya tak keruan saja. Baiklah. Tiga tahun yang lalu saya beri kesempatan besar kepadanya. Tidak cuma kerja dua tiga hari saja membikin pagar atau pagu. Saya beri dia proyek menyempurnakan rumah saya. Banyak kayu dan kaca dan besi dan bata terlibat. Ini pekerjaan dua bulan, Mang! Upahnya top, ditambah dua kali makan banyak. Maka dia mulailah kerja. Datang-pergi dia naik becaknya sendiri. Lha, dua minggu kemudian tahu-tahu dia bawa radio model roti. “Philips”. Saya membelalak. “Lho, dari mana ini? Dan buat apa?” Murah, den. Cuma 2.000 rupiah. Perlu buat teman kerja, den. Nanaonan Mang the . . . (Apaan sih kau ini!), gumam saya. “Belum apa-apa sudah beli radio”.
Sementara itu tetangga-tetangga saya mengagumi kecakapan Mang. Dan mereka memesan dia. Nanti kalau sudah selesai di rumah saya, dia bisa pindah ke rumah-rumah lain. “No, rezeki nomplok, Mang. Kesempatan baik merubah nasib”. Dia tersenyum. Matanya melirik. Dan betul dia merubah nasib, jauh lebih cepat dari yang bisa saya duga. Sebulan berikutnya saya dengar ingar-bingar letupan sepeda motor di belakang rumah saya. Mata saya tak habis heran. Si Mang ketawa lebar. “Baru beli den! Murah! Cuma limabelas ribu. Boleh nyicil”.
“Dan itu pantalon dan sepatu kulit dan kaos kaki dan topi kempa juga baru beli ya?” “Iih, wayahna wae den” (maklum sajalah). Kan saya sekarang naik motor. Tapi ini juga murah den. Dari loak.” Motornya “Puch” yang dulu pernah jaya di jalanan Indonesia. Nampaknya sudah rongsok, cuma anehnya belum rubuh. Bahkan masih meraung dengan dahsyatnya meskipun penuh batuk. “Murah tapi mahal ini, Mang!” Itu dia tahu juga. Memang dia sudah beli suku ini suku itu sekedar untuk melengkapi barang rumpang ini. Tentu saja dia mesti beli bensin dan minyak. Bagaimanapun juga, impiannya terkabul. Sekarang dia menjadi tuan besar.
Lalu tuan besar bersiap untuk kerja lagi. Ditanggalkannya bajunya yang mentereng itu. Tinggallah sekarang cuma celana kolornya yang kumal dan kaos oblongnya di badan. Topi gangster-nya digantinya dengan peci butut. Sandiwara di jalanan sementara selesai. Keadaannya sekarang persis sewaktu dia masih menarik becak. Dia pasang radionya. Dia mulai mengetam. Khotbah saya mengenai kegoblokan tindakannya didengarnya juga tentunya. Tapi dia tersenyum bahagia saja. Peduli amat.
Dua bulan kemudian sebuah becak mampir ke rumah saya. “Den”, tanya si Mang, “apa tetangga itu masih perlu tenaga saya?” “Dulu memang perlu, tapi kau menghilang saja mengingkari janji, jadi dia cari tukang lain. Sekarang saya ikut malu, sebab saya dulu jadi promotor kamu. Dan apaan ini kok sekarang naik becak lagi? Mana motornya?” Jawabnya memutar-mutar. Pokoknya tak ada lagi si “Puch” itu.