Prisma

Politik Bahasa Keindahan

Bahasa yang mampu dengan rapi memenuhi kebutuhan komunikasi impersonal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan komunikasi personal tidaklah layak jadi bahasa puisi. Dalam konteks budaya Jawa, bahasa itu hendaknya bisa membuat batin dibangunkan, pikiran berkumandang, hasrat menguat dan rasa pun kena. Bahasa Indonesia sebetulnya diuji, apakah ia dapat memenuhi kebutuhan manusia Indonesia untuk berkomunikasi, baik dalam lingkup intim, akrab, organisasional, maupun massal.

PENYAIR itu duduk bersila di pendapa joglo membacakan sajak-sajaknya. Terkadang dia bagai orang bercerita tentang negeri dongeng, terkadang dia bermain peran dalam sandiwara yang dramatis perkara penderitaan umat, terkadang dia mempertunjukkan tontonan yang plastis namun karikatural tentang berbagai tokoh, dan kemudian dia berdialog dengan para pendengarnya. Bagai kyai, dia berfatwa mengutarakan kebijaksanaan serta kearifan hidup. Referensinya segudang, mulai dari Al Qur’an, teologi, filsafat, sastera, sejarah, sosial, politik, ekonomi disertai berbagai ilustrasi yang disabet dari berbagai tayangan ajang kyalayak. Kebenaran dicoba dikupas dari kehidupan sehari-hari yang akrab dihayati pendengarnya, bagai orang mengupas sabut kelapa, batok, sampai ketemu kenthosnya. Dan akhirnya ketika acara usai di tengah malam, orang-orang pun pulang dengan kekayaan batin baru. Mereka mengalami sendiri ulah berbahasa yang canggih, penuh gaya yang menyentuh rasa, mengundang hasrat, mengumandangkan cipta. Mereka menghayati keindahan yang menembus keindahan sehari-hari sebagaimana tampak dari rias-dandanan gadis-gadis jelita. Mereka memperoleh pemahaman akan berbagai perkara politik yang tersamar dalam berbagai berita.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan