
Leo Suryadinata. ed. Pemikiran Politik Tionghoa Indonesia 1900-1977. Singapura: Singapore University Press, 1979, xix + 251 halaman.
Penulis Dr. Leo Suryadinata adalah seorang peneliti persoalan minoritas keturunan Tionghoa di Indonesia yang cukup tekun. Ia dikenal karena beberapa buah bukunya, antaranya Peranakan Politics in Java, 1917-42 (Institute of South-East Asian Studies, Singapore University Press, 1976). Bukunya yang akan dibicarakan ini pun dibiayai oleh lembaga dan diterbitkan oleh penerbit yang sama.
Kurang latar belakang
Bagi para peneliti masalah Tionghoa di Indonesia buku ini sangat berjasa, karena akan banyak meringankan pekerjaan mereka. Padahal karangan-karangan yang dikumpulkan editor tersebar di dalam suratkabar, majalah dan risalah berbahasa Melayu Tionghoa, Belanda, Indonesia dan Tionghoa yang sebagian terbesar kini telah sukar diperoleh. Dari situ mereka akan mendapat gambaran terang tentang alam pemikiran politik golongan peranakan Tionghoa dan Tionghoa totok. Pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang masing-masing mereka cara berpikir, tata nilai, bahkan kepentingan sosial ekonomi dan mitos golongannya berbeda.
Tapi bagi kaum awam kekurangan penulis memberikan latarbelakang sosio-historis merupakan gangguan untuk memahami dengan baik persoalan yang dibicarakan. Misalnya apa sebabnya ada tiga golongan: Sin Po, CHH (Chung Hua Hui) dan PTI (Partai Tionghoa Indonesia) kurang diterangkan latarbelakang sosio-historisnya supaya jelas bahwa seorang Tionghoa totok wajar menentang alat pem-Belanda-an CHH, sebaliknya seorang berpendidikan Barat yang put hauw (anak durhaka) terhadap kebudayaan Tionghoa secara wajar tidak akan menyokong golongan Sin Po. Kwee Kek Beng, lulusan HCK, yakni SPG Belanda-Tionghoa, menyokong Sin Po, meskipun hingga ke tulang sumsumnya ia seorang Belandawan: Wiens brood men eet, wiens woord men spreekt (=Yang makanannya orang makan, perkataannya ia ucapkan).
Menurut sifatnya kumpulan karangan ini ulang-mengulang, bertumpang-tindih: apa yang telah dibahas seorang pengarang dimah-biak oleh yang lain-lain secara berulang-ulang; tidak selalu yang datang kemudian lebih baik dan lebih lengkap pembahasannya. Ketumpang-tindihan ini timbul dari dipertahankannya keutuhan setiap karangan seorang pengarang. Jadi semacam necessary evil yang tak dapat dihindarkan.