Pada tahun enampuluhan semangat revolusi membakar seluruh penduduk Nusantara. Waktu itu sudah diikrarkan bahwa bangsa yang revolusioner harus mampu berdiri di atas kaki sendiri dan tidak menggantungkan dirinya pada bangsa-bangsa lain, apalagi dalam soal pangan. Dan ucapan paling menggetarkan yang keluar dari mulut Bung Karno adalah: Go to hell with your aid, bagi semua bantuan asing. Dan untuk menyambut tantangan itu proyek intensivikasi padi sudah mulai dilaksanakan sejak tahun 1962. Tetapi hasil yang dicapai adalah deretan manusia-manusia lapar yang berdiri berbaris menanti giliran mendapatkan jatah beras. Dan orang teringat paling kurang pada satu penyebabnya, yaitu keterpencilan yang membuat kita lapar. Karena itu semangat massa beberapa tahun kemudian mengutuk Bung Karno dan rezimnya, lantas dia diturunkan.
Satu dasawarsa setelah Bung Karno kita mendengar ucapan yang bertolak belakang: Indonesia adalah surga bagi modal asing. Modal asing memang berdatangan dan bersamanya datang pula teknologi pangan: dalam bentuk bibit unggul, pupuk, pembunuh hama. Tentu saja yang kita dengar tidak ada lagi barisan penanti giliran buat jatah beras. Namun semakin sering datang berita tentang jutaan orang yang berada dalam barisan menanti giliran disambar maut, karena kekurangan atau ketiadaan pangan. Atau tentang puluhan juta yang hidup sekedar untuk melihat bahwa matahari masih terbit di esok hari. Hilang harkat manusiawinya karena lapar dan dihantui kelaparan kronis.
Bung Karno dipersalahkan karena menutup diri. Apakah kini kita masih harus bertanya bahwa kita terlalu membuka diri? Boleh jadi semua teknologi yang diimpor yang tercakup dalam satu kata yaitu revolusi hijau sebenarnya tidak pernah dengan perhitungan yang matang tentang struktur sosial di pedesaan. Semakin revolusi hijau diundang masuk, semakin dia menyisihkan yang lemah dan yang tak berada ke pinggir.
Dan kita senantiasa tertipu bayangan. Persediaan pangan yang naik disangka kemakmuran. Sedangkan mata yang awas melihat bahwa semua kenaikan bukan semata-mata karena produksi yang meningkat di desa, akan tetapi karena produksi sebagian kecil para pemilik tanah besar yang semakin meningkat.
Kesimpulannya, teknologi moderen lebih bersifat cost reducing dan bukan out-put increasing. Teknologi kelihatannya mencoba menurunkan beban ongkos dan bukan menaikkan hasil umum, demikian kata seorang penulis. Sialnya yang disebut pengurangan ongkos identik dengan pengurangan tenaga kerja. Dan pengurangan tenaga kerja di desa hampir-hampir sama maknanya dengan menelantarkan sebagian besar tenaga kerja dan dengan begitu peningkatan pengangguran besar-besaran di desa tidak lain artinya pula daripada membiarkan semakin banyak orang yang tidak dapat makan.
Apalagi yang salah? Kita pernah menutup dan kita sudah membuka diri. Namun menutup dan membuka membawa akibat yang sama saja. Dengan menutup diri orang kota terpukul, dengan membuka diri orang desa mati. Atau kita keliru mengartikan politik pangan? Politik pangan tidak sama dengan politik pergudangan karena politik pangan adalah politik produksi. Dan pada gilirannya tidak ada suatu sistem produksi yang terlepas bebas dari suatu hubungan sosial dalam suatu masyarakat di mana pun, karena produksi menyangkut hubungan antar manusia yang satu dengan manusia yang lain. Dan memang benar, hanya manusialah yang berproduksi. Memecahkan masalah pangan adalah usaha yang paling mendasar dalam hidup, karena itu seharusnya dia menjadi suatu usaha yang paling radikal. Dan usaha yang radikal menjamah soal sampai ke akar-akarnya. Bagi manusia akarnya tidak lain dari manusia itu sendiri. Karena kalau bukan manusia menjadi tujuan tetapi komoditi, kita terperangkap dalam fata morgana, tertipu bayangan sendiri. Keberhasilan dilihat dalam pasar yang penuh barang, kemakmuran diumumkan karena gudang penuh pangan, namun manusia mati lapar justru di samping pasar dan gudang yang kepenuhan.