Prisma

Politik Gender Orde Baru

Tinjauan Organisasi Perempuan sejak 1980-an

Perempuan dan gerakannya telah hadir jauh sebelum pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan. Berdampingan dengan kaum pria mereka turut menggerakkan kesadaran politik massa sambil membuka simpul temali yang selama itu membatasi peran masing-masing. Aktivitas organisasi-organisasi perempuan berjalan dan mencapai puncak pada penghujung 1965. Setelah itu berlangsung proses domestikasi di segala bidang. Organisasi-organisasi isteri yang mendampingi suami kini yang tampil. Di sisi lain tumbuh berbagai organisasi perempuan LSM yang seringkali dianggap “keras.” Dari kesemua organisasi perempuan yang ada muncul pertanyaan apakah mereka dapat dianggap representasi dari gerakan perempuan.

Zaman kaum perempuan bergerak di Indonesia dibuka oleh pikiran Kartini sampai terbangunnya organisasi-organisasi perempuan sejak tahun 1912.1 Kegiatan mereka pada awalnya menekankan pendidikan yang membuka cakrawala kaum perempuan, misalnya, memasak, merawat anak, melayani suami, menjahit, dan lain-lain. Lebih jauh dari itu, mereka memberikan pula kesadaran, yang belakangan disebut sebagai “emansipasi wanita,” bahwa kaum perempuan sederajat dengan kaum laki-laki.2 Kualitas kesadaran kaum perempuan mengkristal dalam kesadaran politik yang dinyatakan dalam Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Kongres yang diselenggarakan pada 22 Desember 1928 ini, dua bulan setelah Kongres Pemuda, berpendapat bahwa persamaan derajat akan dicapai dalam susunan masyarakat yang tidak terjajah.


1 Lihat, Takashi Shiraishi, An Age In Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926 (Cornell University Press, Ithaca, 1990). Kartini disebut sebagai pembuka zaman pergerakan kemudian disusul berdirinya Boedi Oetomo dan organisasi-organisasi lain, termasuk organisasi perempuan. Pergerakan menandakan suatu kesadaran politik baru sebagai bangsa Hindia yang terjajah dan selanjutnya berjuang mengenyahkan penjajah. Poeteri Mardhika, atas prakarsa Boedi Oetomo, merupakan organisasi perempuan pertama yang berdiri di Indonesia pada tahun 1912. Perkumpulan, yang diketuai oleh RA. Theresia Sabaroedin ini beranggotakan 132 orang, di antaranya 32 perempuan. Dalam majalah Poetri Mardhika, No. 5, Agustus 1915 diwartakan bahwa perkumpulan yang bertujuan memberi pendidikan, kesempatan perempuan bertindak di luar rumah dan menyatakan pendapat di muka umum dan meninggikan derajat setingkat laki-laki ini berhasil memberi “bea-siswa” kepada 2 anak perempuan di HBS, 1 di sekolah Belanda, 3 di Bataviasche Kartinischool, dan 1 di sekolah partikelir.

2 Soekarno menyebut dengan istilah “menyempurnakan keperempuanannya.” Pikiran tentang evolusi perjuangan kaum perempuan ditulis Soekarno dalam Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia (Panitia Penerbit Buku-buku Karangan Soekarno, 1963). Dia merumuskan perjuangan kaum perempuan di Eropa abad ke-18, meliputi tahap pertama, yakni memperhebat kemahiran isteri sebagai pendamping suami, jadi berakomodasi dengan ekses-ekses patriarkat, anggotanya adalah kalangan perempuan borjuis. Tahap kedua, adalah tuntutan feminisme untuk mencapai persamaan hak dan derajad dengan laki-laki. Tahap ketiga, pergerakan sosialisme, terutama perempuan bawah (kaum pekerja) yang menghendaki perubahan susunan masyarakat berkelas yang menindas mereka.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan