Prisma

Potensi dan Partisipasi Wanita dalam Kegiatan Ekonomi Pedesaan

Makin tingginya angka partisipasi angkatan kerja wanita sering dianggap sebagai indikasi adanya feminisasi dalam kegiatan ekonomi. Handewi menduga bahwa feminisasi kegiatan ekonomi di pedesaan berkaitan dengan proses transformasi ekonomi dari sektor pertanian ke Industri. Proses ini cenderung mendesak tenaga kerja untuk keluar dari sektor pertanian dan bermigrasi ke kota karena sektor industri lebih terpusat di daerah perkotaan. Kebanyakan dari kaum migran ini adalah tenaga kerja pria, akibatnya peran wanita dalam kegiatan ekonomi pedesaan, khususnya usahatani, menjadi semakin besar. Kondisi ini menghadapkan wanita di pedesaan pada masalah alokasi waktu antara rumah tangga dan bekerja.

Akhir-akhir ini isu-isu tentang gender (gender issues) banyak dibicarakan dengan titik berat permasalahan pada kedudukan dan peranan wanita dalam pembangunan (Women in Development). Paling tidak dalam bulan Maret 1995 lalu ada tiga seminar yang membahas hal tersebut, salah satunya merupakan seminar tingkat internasional.1

Dari seminar di Chiangmai, ada lima hal penting yang direkomendasikan seperti diungkapkan oleh Dedi Supriadi2 sebagai utusan dari Indonesia. Salah satu rekomendasi tersebut antara lain adalah bahwa mengingat besarnya kontribusi kaum wanita dalam perekonomian nasional suatu negara, terutama negara-negara berkembang, maka usaha-usaha sistematis perlu dilakukan untuk mencegah kaum wanita menjadi “korban” dari setiap restrukturisasi ekonomi. Karena itu, berbagai langkah untuk memberdayakan kaum wanita melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah perlu dilakukan pada semua sektor pembangunan dan kegiatan perekonomian.

Kegiatan ekonomi pedesaan tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan di sektor pertanian. Beberapa studi yang membahas peranan wanita di sektor pertanian menunjukkan bahwa peranan wanita di sektor pertanian cukup besar di samping kegiatan rumah tangga. Mereka umumnya bekerja dalam beberapa aspek produksi, panen, pasca panen, distribusi pangan dan konsumsi. Peranan tersebut tidak saja pada kegiatan fisik tetapi juga dalam pengambilan keputusan. Di dalam menambah penghasilan keluarga, wanita selain bekerja di lahan sendiri dan sebagai buruh tani, juga bekerja di luar sektor pertanian. Kegiatan di luar sektor pertanian tersebut antara lain mengerjakan kerajinan, usaha dagang kecil-kecilan, buruh musiman, di samping bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan yang tidak langsung menghasilkan, yaitu mengurus pekerjaan rumah tangga dan kegiatan sosial.3

Meningkatnya potensi dan partisipasi wanita dalam kegiatan ekonomi pedesaan tidak terlepas dari kondisi tenaga kerja (wanita) di Indonesia yang mengalami pergeseran struktural. Hal ini ternyata berdampak pada munculnya isu feminisasi kegiatan ekonomi pedesaan.


1 Seminar tingkat internasional yang bertema “Seminar for Policy Makers on Women and Girls Education” ini berlangsung 7-13 Maret 1995 di Chiangmai, Muangthai dan diprakarsai oleh UNESCO PROAP Bangkok dan diikuti oleh utusan dari 9 negara termasuk Indonesia. Seminar lainnya adalah seminar yang diselenggarakan oleh Kantor Menteri Negara Kependudukan/Ketua BKKBN dengan tema “Penduduk dan Keluarga sebagai Kekuatan dan Arahan Pembangunan Nasional,” dan Seminar tentang “Peduli pada Pekerja Wanita” yang diselenggarakan oleh DPP Golkar bekerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja dan Kantor Menteri Negara UPW.

2 Dedi Supriadi, “Wanita dan Pendidikan,” dalam Suara Karya, 25 Maret 1995.

3 Departemen Pertanian, “Wanita Tani-Nelayan Indonesia Tinjauan Pustaka Mengenai Pola Pembagian Kerja Wanita dan Pria di dalam Rumah Tangga Petani-Nelayan Indonesia dengan Analisis Gender,” 1991. (Reed)

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan