Prisma

Prospek Perubahan bagi Golongan Miskin Kota

Yang disebut dengan nama kampung di kota-kota sebenarnya tidak menunjukkan hanya satu wajah, meskipun dia lebih dikenal sebagai tempat pemukiman. Zsu Zsa Baross menunjukkan secara kongkrit di dalam tulisannya ini. Kampung ternyata bukan saja menjadi tempat tinggal. Dia juga menjadi tempat kerja, tempat berjualan, tempat toko-toko, tempat kerja bagi para pelayan, pembantu rumahtangga. Dalam tulisannya berikut ini penulis mengambil kisah seorang tukang jual abu gosok, yang berjuang mempertahankan nafasnya di kota dengan menjual abu gosok. Nasib orang-orang inilah yang tidak tersentuh setiap rencana pembangunan di kota-kota. Dan yang lebih dari situ penjual abu gosok harus bertarung dengan produk-produk moderen bikinan luar negeri yang tidak mungkin dia saingi.

Kampung” merupakan bentuk pemukiman yang unik. Istilah-istilah yang umum seperti “pecomberan” (slums) atau “pemukiman liar” (squatter settlements), bahkan yang kurang berbau meremehkan seperti “pemukiman mereka yang berpenghasilan rendah” atau “pemukiman marginal”, tidak ada yang cukup tepat menggambarkan kontradiksi-kontradiksi yang membuat “kampung” begitu berbeda dengan bentuk-bentuk pertumbuhan kota yang lain.

Di satu pihak, kampung itu merupakan daerah kota yang tumbuh secara tak teratur, spontan dan “tidak resmi”, namun menempati sekitar 70 persen dari daerah kota-kota besar dan moderen di Indonesia. Sedangkan kampung boleh dikatakan bersifat “marginal” dalam pengertian campurtangan, pengawasan, dan bantuan pemerintah, namun memainkan peranan yang penting dalam perkembangan kota umumnya dan pada hakekatnya membentuk sifat-sifat serta prospek perkotaan Indonesia. Meskipun ditinjau dari sifat lahir dan lingkungannya, kampung-kampung itu sering nampak sebagai pemukiman penghasil rendah, tetapi mayoritas penghuni kota (kecuali yang sangat kaya dan yang sangat miskin), tinggal di kampung. Di balik lingkungan yang pada umumnya nampak miskin, infrastruktur yang masih kasar, ketiadaan pelayanan, kondisi kebersihan yang sering menyedihkan dan jalan-jalan serta gang-gang yang becek, terdapat masyarakat kampung yang beraneka-ragam dan heterogen. Lingkungan yang sama mungkin dihuni oleh penjaja keliling yang melarang, pedagang yang relatif berada, pedagang kelontong, dosen universitas dan pekerja pabrik yang sedang menganggur.

Bagi yang kurang awas, kampung mungkin hanya merupakan daerah-daerah pemukiman; sedangkan sesungguhnya adalah sektor yang paling tidak teratur dengan toko-toko dan warung-warung yang menghasilkan, memperbaiki atau menjual hampir segala rupa barang; mobil, bahan bangunan, pakaian bayi, alat-alat listrik, bahan makanan tradisional, onderdil-onderdil perlengkapan listrik moderen, dan sebagainya. Meskipun kampung dianggap sebagai tempat pemukiman oleh sementara orang, dia terutama merupakan tempat bekerja. Bagi seorang pelayan, pekerja baru dari daerah lain, penjaja keliling, pemilik warung, pertama-tama kampung itu merupakan sebuah pasar, dan baru kemudian tempat pemukiman. Mereka mendapatkan penghasilan, secara langsung ataupun tidak langsung, dari para penghuni yang mencari nafkahnya di bagian lain dari kota itu.

Dimensi-dimensi kampung yang kontras inilah (kota-desa, tradisional-moderen, formal-tak-formal), yang memberi corak khas pada kesempatan kerja, pengaturan perumahan, hubungan sosial dan keluarga, gerak-gerik ekonomi, dan sebagainya yang membuat kampung berbeda dengan daerah “gubuk-gubuk” di kota, ataupun pemukiman liar kelompok miskin.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan